InfoMatoa, (Kota Jayapura) | Bertempat di Kediaman Ondoafi Nafri Warke, Jalan Raya Tanah Hitam, Distrik Abepura, Kota Jayapura, digelar kegiatan Para-Para Adat dengan tema “Masyarakat Adat Bersatu, Menuju Kampung Maju dan Sejahtera”. Kegiatan ini dikoordinir oleh Edi Ohoiwutun selaku Sekretaris Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay, (13/9).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua LMA Port Numbay yang juga Ondoafi Nafri Warke, George Arnold Awi; Sekretaris LMA Port Numbay, Edi Ohoiwutun; Ketua Pemuda Adat Port Numbay, Rudi Mebri; serta narasumber dan motivator, Jose Ohee.
Dalam sambutannya, Edi Ohoiwutun menekankan bahwa Para-Para Adat bukan hanya sekadar pertemuan, tetapi wadah musyawarah untuk memajukan kampung sekaligus mengokohkan persatuan masyarakat adat.
Ia mengajak seluruh peserta untuk mendukung berbagai program pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, seperti Makan Bergizi Gratis, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat.
“Keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Mari kita bersatu, saling mendukung, dan ambil bagian untuk mewujudkan Papua yang sehat, cerdas, mandiri, dan sejahtera. Bersama rakyat pemerintah kuat, bersama pemerintah rakyat berdaulat,” tegasnya.
Sementara itu, Jose Ohee dalam pemaparannya mengingatkan bahwa persatuan adalah kunci menuju kampung yang maju dan sejahtera.
Ia menegaskan, masyarakat adat bukan sekadar penonton pembangunan, tetapi harus menjadi pelaku utama.
Kegiatan ini juga diwarnai dengan penyampaian aspirasi dari kaum perempuan adat Kampung Nafri. Mereka berharap pemerintah dapat memperluas jangkauan program prioritas, khususnya di 14 kampung, meliputi Makan Bergizi Gratis, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, peningkatan daya beli masyarakat adat, serta peningkatan kualitas generasi muda adat.
“Kami berharap pemerintah lebih berpihak dalam kebijakan yang melindungi dan menyelamatkan masyarakat adat Port Numbay,” demikian bunyi pernyataan aspirasi yang disampaikan perwakilan perempuan adat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembagian bakti sosial dan ramah tamah bersama masyarakat adat. [Red]









