InfoMatoa, (Jakarta) | Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sekitar 1.200 akademisi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/1). Para peserta tersebut terdiri dari guru besar, dekan, hingga rektor berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia. Pihak Istana menyebut pertemuan ini sebagai bagian dari agenda strategis Presiden. Beliau ingin berdialog langsung dengan akademisi mengenai kondisi nasional dan rencana pembangunan ke depan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan ruang diskusi yang terbuka. Selain itu, Presiden ingin menyampaikan pandangan serta pembaruan terkait situasi dalam negeri dan geopolitik global.
“Ini bagian dari agenda Bapak Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah untuk berdiskusi. Beliau ingin menyampaikan pandangan dan update terhadap kondisi negara maupun kondisi geopolitik. Selain itu, Beliau memaparkan rencana-rencana besar yang harus kita kerjakan ke depan,” kata Prasetyo kepada wartawan sebelum acara.
Prasetyo menambahkan bahwa dialog ini mencerminkan perhatian khusus Presiden Prabowo terhadap sektor pendidikan. Menurutnya, pemerintah secara serius menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional.
“Dalam satu minggu ini, kita betul-betul ingin menjadikan pendidikan sebagai pondasi dan faktor kunci. Jadi, selain mengejar swasembada pangan dan energi, kita juga membangun sumber daya manusia. Hal itu menjadi salah satu pondasi utama pembangunan kita,” sambung Pras.
Presiden menjadwalkan sesi dialog dengan para guru besar bidang sosial dan humaniora mulai pukul 09.00 WIB. Pemerintah menggelar seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari taklimat hingga dialog interaktif, secara tertutup.
Meski demikian, Prasetyo memberi gambaran sejumlah isu strategis yang bakal mengemuka dalam diskusi tersebut. Salah satunya terkait upaya mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga medis, khususnya dokter. Hingga kini, Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga medis yang cukup signifikan.
“Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebenarnya sudah mulai mendiskusikan hal ini. Misalnya, kami mencari cara mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter. Data menunjukkan kita masih kekurangan hampir di atas 100.000 dokter. Nah, kita harus mencari cara untuk mempercepat proses ini,” ungkap Pras.
Selain itu, peningkatan kualitas perguruan tinggi dalam negeri juga menjadi fokus pembahasan utama. Pemerintah kini tengah mengkaji langkah-langkah untuk menekan beban operasional perguruan tinggi negeri. Tujuannya adalah meningkatkan mutu pendidikan tanpa membebani masyarakat secara finansial.
“Kami sedang menghitung cara mengurangi beban operasional di setiap perguruan tinggi negeri. Hal ini merupakan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan universitas. Oleh karena itu, kami ingin universitas maju dan berkualitas namun tetap terjangkau bagi mahasiswa,” jelas Prasetyo Hadi.
Pemerintah mengharapkan pertemuan ini menjadi langkah awal penguatan sinergi dengan kalangan akademisi. Dengan begitu, semua pihak dapat merumuskan arah kebijakan pendidikan dan pembangunan SDM Indonesia secara tepat. [Red]









