InfoMatoa, (Manokwari Selatan) | Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel) menjadi salah satu wilayah di Provinsi Papua Barat yang kerap dilanda banjir saat musim penghujan. Hal ini diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mansel, Ahmad Amir, usai mengikuti forum grup diskusi dan penyusunan dokumen rencana kontijensi banjir di Kantor Bupati Mansel, Bukit Boako Ransiki, Jumat (26/9).
Menurut Amir, persoalan banjir di Mansel bukan tanpa sebab, melainkan dipicu oleh berbagai faktor, terutama degradasi alam akibat ulah manusia. Eksploitasi hutan secara tidak teratur, baik untuk kepentingan pembangunan maupun kegiatan masyarakat, dinilai menjadi penyebab utama. “Eksploitasi hutan secara non-struktural harus ada batasnya,” tegas Amir.
Ia juga menyoroti aktivitas galian C yang berlebihan, karena berpotensi merusak aliran sungai dan mengakibatkan banjir di pemukiman warga yang bermukim di bantaran sungai.
Untuk mengatasi hal ini, BPBD Mansel mendorong kolaborasi bersama Cabang Dinas Kehutanan (CDK) dan pihak terkait lainnya, terutama dalam melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada masyarakat pemilik hak ulayat agar penebangan hutan dilakukan secara bijak. Penebangan di kawasan bantaran sungai, kata Amir, harus dihentikan karena dapat merusak struktur sungai dan memicu bencana.
“Kita harus melibatkan kepala suku dan pemilik hak ulayat dalam upaya pencegahan banjir. Jika ada dana kompensasi dari pengelolaan karbon, sebaiknya dialokasikan untuk pemilik hak ulayat agar mereka dapat menjaga hutan adatnya dan tidak sembarangan melakukan penebangan,” pungkas Amir. [Red]









