InfoMatoa, (Nduga) | Di tengah bayang-bayang ketegangan yang selama ini membayangi Kabupaten Nduga, kehadiran TNI dan Polri sering dicitrakan secara negatif, terutama oleh kelompok separatis seperti TPNPB. Narasi bahwa aparat negara merupakan aktor utama kekerasan dan keresahan telah lama beredar di media sosial maupun forum-forum politik luar Papua. Namun, kenyataan di lapangan tak sesederhana itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah aksi humanis oleh aparat TNI-Polri menunjukkan sisi lain dari keberadaan negara di Papua Pegunungan. Di tempat yang selama ini dikenal rawan, aparat justru membangun interaksi sosial, mendukung pendidikan, hingga mendatangkan pelayanan kesehatan ke pelosok kampung.
Belajar dalam Keterbatasan, Tumbuh dengan Harapan
Pada Sabtu, 17 Mei 2025, personel Subsatgas Si-Ipar Rasaka Cartenz terlihat mengajar anak-anak di Kampung Lani, Kabupaten Nduga. Kegiatan ini bukan bagian dari agenda seremonial atau kunjungan pejabat. Di balik keterbatasan fasilitas dan akses, aparat menyempatkan diri memberikan pelajaran membaca, menulis, berhitung, bahkan mewarnai—bagi anak-anak yang belum pernah mengenyam pendidikan formal.
Menurut keterangan Kasubsatgas Si-Ipar, Ipda Laurens Rumansara, kegiatan ini menjadi upaya membangun kepercayaan diri dan masa depan anak-anak yang kerap tertinggal karena akses pendidikan yang minim. “Dengan keterbatasan dan ketertinggalan, mereka tetap semangat belajar. Kami hanya berusaha menjembatani,” ujarnya.

Membangun Rasa Aman dan Kepercayaan
Sisi spiritual pun tak luput dari perhatian aparat. Pada Minggu, 8 Juni 2025, sebanyak 70 anak sekolah minggu mengikuti ibadah bersama personel Polwan Satgas Humas Operasi Damai Cartenz-2025 di Gereja Pantekosta Jemaat Yericho Nogolait, Kenyam, Nduga. Momentum ibadah sekaligus perayaan Hari Pentakosta itu dipenuhi suasana hangat, antusias, dan jauh dari kesan intimidatif.
Kepala Operasi Damai Cartenz-2025, Brigjen Pol. Faizal Ramadhani, menyatakan bahwa pendekatan humanis adalah jalan utama membangun kedekatan dengan masyarakat. Hal ini ditegaskan kembali oleh Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, yang menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen membangun rasa aman dan kepercayaan di tengah masyarakat Papua.

Pelayanan Kesehatan di Wilayah Sulit Akses
Tanggal 19 Juli 2025, giliran TNI melalui Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III yang hadir langsung di Distrik Krepkuri, Nduga. Dengan mendatangkan tim medis dari Jakarta, termasuk tenaga kesehatan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), kegiatan bakti sosial digelar di Desa Batas Batu. Warga dari berbagai kampung sekitar datang dengan berjalan kaki belasan kilometer, demi bisa memeriksakan kesehatan, mendapatkan makanan bergizi, sembako, dan air bersih.
Panglima Kogabwilhan III, Letjen TNI Bambang Trisnohadi, menegaskan bahwa kegiatan bertema “Sehat Bersama, Membangun Ketahanan Bangsa” ini bukan agenda sekali lewat. Melainkan bentuk hadirnya negara secara nyata di wilayah tertinggal, sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengutamakan pelayanan dasar masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

Bukan Tugas Sementara
Apa yang dilakukan aparat TNI-Polri di Nduga tak berhenti di sini. Dari ruang kelas darurat hingga pelayanan kesehatan, dari gereja kampung hingga distribusi logistik, semua menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menunjukkan bahwa kehadiran negara tidak selalu identik dengan kekuatan bersenjata.
Meski narasi-narasi miring kerap dimunculkan oleh kelompok separatis, faktanya di sejumlah titik, warga mulai menyambut aparat sebagai mitra, bukan musuh. Dukungan dari tokoh adat, pemuka agama, dan kepala suku dalam kegiatan-kegiatan ini menunjukkan secercah kepercayaan yang mulai tumbuh kembali.
Dan sebagaimana diungkapkan dalam berbagai pernyataan pimpinan aparat di lapangan, tujuan akhirnya sederhana tapi mendalam: membantu masyarakat Papua Pegunungan. Di tengah dinamika wilayah yang kerap dicitrakan rawan konflik, TNI dan Polri menunjukkan bahwa tugas negara tak semata menjaga keamanan. Ada upaya yang tak kalah penting: menghadirkan kenyamanan, merawat harapan, dan membangun kembali kepercayaan dari tengah-tengah masyarakat sendiri. (Red)
Catatan Redaksi:
Tulisan ini disusun berdasarkan laporan dari Tribratanews.papua (18 Mei 2025 dan 9 Juni 2025) serta IndonesiaDefence.com (19 Juli 2025). Seluruh informasi diolah dan dinarasikan ulang berdasarkan pemberitaan lembaga resmi yang telah dipublikasikan.









