InfoMatoa, (Jayapura) | Masyarakat Lembah Grime Nawa merayakan ibadah satu abad nubuatan peradaban orang Papua dengan tema ‘Papua bangkit memberkati bangsa-bangsa. Yesaya 60:1’ di Lapangan Genyem Kota, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Sabtu (25/10). Perayaan ini memperingati 100 tahun nubuat Pendeta Izaak Samuel Kijne (I.S. Kijne) yang meletakkan fondasi peradaban dan pesan rohani di Bukit Aitumeri Wondama bagi bangsa Papua.
Ibadah Satu Abad Nubuatan
Ibadah dimulai pukul 10.00 WIT dan dipimpin Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Pendeta Usman Kobak. Turut hadir Bupati Jayapura Yunus Wonda, Kapolres Jayapura AKBP Umar Nasatekay, Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Grime Nawa Zadrak Wamebu, tokoh adat, dan masyarakat setempat.
Bupati Yunus Wonda menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momen refleksi untuk generasi Papua.
“100 tahun sudah selesai, 100 tahun lagi apa yang kita buat. Peristiwa 100 tahun ini, hanya Injil yang bisa merubah negeri ini.” ujar Yunus Wonda.
Ia menambahkan bahwa pembangunan fisik penting, tetapi transformasi hati dan karakter masyarakat Papua terjadi melalui Injil. Ia mengajak warga untuk menginjili diri sendiri terlebih dahulu sebelum menginjili orang lain, menghilangkan perbedaan, permusuhan, dan perdebatan.
“Mari kita menciptakan Papua damai di dalam Injil supaya membangun Kabupaten Jayapura dengan aman dan nyaman.” ujar Yunus Wonda.
Ritual Pemutusan Tomako Batu
Pada momen itu, tokoh adat juga melakukan ritual pemutusan Tomako Batu, alat pembayaran mas kawin, untuk menyelamatkan generasi dari pengaruh roh yang meresahkan. Yunus Wonda menyebut bahwa adat tetap dihormati, tetapi Injil mengajarkan untuk tidak menyembah berhala.
“[Dari] Genyem ini yang bawa Injil masuk ke wilayah pegunungan. Khusus kami di gereja GIDI, dan guru. Saya lihat ada perubahan yang terjadi dan generasi di sini merupakan orang-orang hebat, ini peradaban yang harus diikuti. Adat bukan berarti kita hilangkan, Injil masuk untuk tidak menyembah berhala selain Tuhan.” ujar Yunus Wonda.
Ketua DAS Grime Nawa, Zadrak Wamebu, menjelaskan bahwa nubuatan I.S. Kijne membawa perubahan sehingga manusia menjadi pusat peradaban. Ia menambahkan bahwa roh yang tinggal di Tomako Batu selama ini meresahkan keluarga, sehingga tokoh adat melakukan ritual pemutusan.
“Jadi keluarga dikacau balau oleh roh itu maka harus diputuskan, tandanya tadi kita putuskan kita percaya jumlah penduduk pasti betambah.” ujar Zadrak Wamebu.
Diskusi adat berlangsung di berbagai wilayah, dan tokoh adat akhirnya menyepakati pemecahan Tomako Batu agar roh tidak merasuki pasangan yang akan menikah.
“Kami sudah ketemu tokoh adat di Kemtuk, Namblong, Kemntuk Gresi, kita diskusikan, jadi kita harus putus tapi kita bicara dengan kepercayaan ada di adat. Hari ini kita sudah putuskan, [roh] tidak punya kuasa lagi sudah diputuskan.” ujar Zadrak Wamebu.
[Red]









