InfoMatoa, (China) | China mengajukan rencana besar pengembangan jaringan satelit internet di orbit rendah Bumi. Mereka mendaftarkan sejumlah proyek ke International Telecommunication Union (ITU). Lembaga PBB ini mengatur alokasi frekuensi radio serta slot orbit satelit global.
South China Morning Post melaporkan kabar ini pada Senin (12/1). Sejumlah konsorsium satelit China mengajukan dokumen pendaftaran tersebut pada akhir Desember 2025. Langkah ini menunjukkan ambisi besar Beijing dalam penguasaan teknologi ruang angkasa.
Lembaga baru bernama Institute of Radio Spectrum mengawal rencana ambisius tersebut. Mereka mengusulkan dua proyek utama bernama CTC-1 dan CTC-2. Selain itu, setiap proyek mencakup hingga 96.714 satelit. Hal ini membuat total unit satelit melampaui angka 200.000.
Persaingan Konstelasi Satelit dan Dominasi Starlink
Beijing kini semakin memperhatikan perkembangan konstelasi satelit asing seperti Starlink. SpaceX mengoperasikan jaringan satelit internet tersebut secara global. Sebelumnya, Pemerintah China menyampaikan kekhawatiran tentang kepadatan orbit rendah Bumi. Pertumbuhan konstelasi komersial tersebut menekan sumber daya orbital bersama. Namun, pihak terkait belum menyertakan laporan resmi mengenai insiden teknis tertentu.
Starlink juga terus memperluas jaringannya di berbagai penjuru dunia. Otoritas komunikasi Amerika Serikat (FCC) menyetujui peluncuran 7.500 satelit generasi kedua. Perusahaan menargetkan operasional penuh satelit ini sebelum akhir 2031. Melalui persetujuan itu, jumlah satelit Starlink dapat mencapai 15.000 unit. Sementara itu, pihak otoritas masih meninjau sebagian izin tambahan lainnya.
Persaingan satelit internet terjadi di tengah keterbatasan spektrum frekuensi radio. Lembaga internasional mengelola sumber daya orbital yang sangat terbatas ini. Oleh karena itu, negara yang lebih dahulu memperoleh persetujuan memiliki prioritas penggunaan. Operator harus beradu cepat dalam mengamankan slot orbit rendah Bumi.
Ambisi Infrastruktur Global dan Tantangan Keselamatan Orbit
China terus meningkatkan kapasitas industri antariksa dalam beberapa tahun terakhir. Mereka meningkatkan frekuensi peluncuran serta membangun fasilitas manufaktur satelit. Selain itu, Beijing merencanakan konstelasi satelit berskala besar. Upaya ini mencerminkan ambisi China di bidang infrastruktur internet global.
Para pengamat menilai pertumbuhan jumlah satelit besar menghadirkan tantangan tersendiri. Hal ini berkaitan dengan keselamatan orbit dan risiko tabrakan antar satelit. Selain itu, potensi gangguan frekuensi menuntut pengelolaan internasional yang ketat. Seluruh pihak memerlukan koordinasi yang jauh lebih mendalam.
Dunia mengharapkan pengembangan jaringan satelit internet global berjalan lebih transparan. Penguatan tata kelola ruang angkasa harus berkelanjutan mulai sekarang. Melalui langkah ini, pemanfaatan orbit rendah Bumi berlangsung secara aman. Selain itu, pembagian sumber daya ini harus adil bagi konektivitas global. [Red]









