InfoMatoa, (Merauke) | Dikutip dari RRI Papua, Gubernur Papua Selatan, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., menerima langsung aspirasi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Papua Selatan di Kantor Gubernur, Senin (3/11). Sebelumnya, massa aksi menyampaikan aspirasi di depan kantor. Gubernur Apolo kemudian mengundang mereka masuk ke aula utama untuk berdialog secara terbuka dan membahas tuntutan mereka.
Dua Isu Utama: Budaya dan Keamanan
Para pendemo menyoroti dua persoalan besar, yakni peristiwa pembakaran mahkota burung cenderawasih yang sempat viral, serta maraknya peredaran minuman keras (miras) yang memicu peningkatan kriminalitas di Papua Selatan, terutama di Kabupaten Merauke. Kedua isu tersebut menarik perhatian serius pemerintah karena berkaitan dengan nilai budaya dan keamanan masyarakat.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Apolo menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa dan masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap kondisi sosial dan budaya Papua Selatan.
“Kehadiran adik-adik ini mewakili masyarakat yang pada hari ini tidak bersuara.” ujarnya.
Terkait insiden pembakaran mahkota burung cenderawasih, Gubernur Apolo memanggil pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua, BKSDA Papua Selatan, serta Kepala Kantor Taman Nasional Wasur untuk memberikan klarifikasi dan tanggung jawab atas kejadian tersebut.
“Saya sudah sampaikan kepada mereka bahwa harga diri jauh lebih berharga dari nyawa. Maka jangan lakukan hal-hal yang melukai martabat orang lain.” tegas Apolo.
Langkah Konkret Atasi Miras dan Kriminalitas
Pihak BKSDA dan Taman Nasional Wasur telah menyampaikan permohonan maaf serta melaporkan bahwa pelaku pembakaran sedang menjalani proses hukum. Apolo menegaskan bahwa pemerintah provinsi mengecam keras tindakan yang menodai harkat dan martabat orang asli Papua.
Selain menyoroti persoalan budaya, Gubernur Apolo juga membahas meningkatnya kriminalitas akibat miras. Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan Forkopimda tingkat provinsi dan kabupaten untuk mencari solusi yang menyeluruh.
“Kami telah menyepakati langkah penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang untuk menekan dampak negatif miras serta menjaga keamanan masyarakat.” tambahnya.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana terbuka itu menghasilkan kesepahaman bahwa aspirasi mahasiswa dan masyarakat harus menjadi dasar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan sosial dan budaya di Papua Selatan. Gubernur Apolo menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendengar suara rakyat dan menjaga harmoni antara adat, budaya, dan pembangunan.
Aksi damai tersebut menjadi bukti nyata bahwa ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah masih terbuka luas di Papua Selatan. Melalui komunikasi yang jujur dan terbuka, pemerintah dan masyarakat berupaya menjaga harga diri, ketertiban, serta kehormatan Tanah Papua sebagai warisan yang harus dijaga bersama. [Red]









