InfoMatoa, (Teluk Wondama) | Harga minyak tanah di sejumlah wilayah Teluk Wondama melonjak drastis hingga melampaui batas kewajaran, sementara pasokan BBM di tingkat pengecer nyaris tidak tersedia. Situasi ini memukul ribuan keluarga yang selama ini bergantung pada minyak tanah sebagai kebutuhan dasar rumah tangga. Seluruh aktivitas masyarakat terhenti akibat keterlambatan kapal pengangkut bahan bakar yang menjadi satu-satunya jalur distribusi ke wilayah tersebut.
Kenaikan harga minyak tanah bukan sekadar persoalan logistik yang tersendat. Masyarakat menilai kondisi tersebut merupakan bentuk kegagalan sistem distribusi energi. Sistem yang seharusnya pemerintah baik pusat maupun daerah dapat merencanakan pelaksanaannya. Ketergantungan penuh pada jadwal kapal, tanpa adanya mitigasi risiko, membuat masyarakat kecil menjadi korban pertama setiap kali distribusi terganggu.
“Ketika harga minyak tanah naik sampai tiga kali lipat, kami yang tidak punya pilihan lain terpaksa menanggung akibatnya. Ibu rumah tangga harus memilih antara memasak atau membeli obat dan kebutuhan sekolah anak-anak,” keluh seorang warga.
Masyarakat menilai situasi ini tidak hanya sebagai kelangkaan semata, tetapi juga bentuk ketidakadilan struktural. Di tengah melimpahnya kekayaan alam Papua, masyarakat di pelosok Teluk Wondama justru hidup dalam kebingungan karena akses terhadap energi dasar tidak terjamin. Kebijakan yang ada, belum berpihak pada kemanusiaan, melainkan semata mengikuti ritme kedatangan kapal yang mudah terganggu cuaca dan jadwal operasional.
Warga mendesak pemerintah bertindak cepat dan tidak lagi bersikap reaktif. Mereka menuntut solusi jangka pendek dan strategi jangka panjang agar pasokan energi tidak lagi tergantung pada satu jalur distribusi.
“Pemerintah, kapan Anda akan bergerak sebelum rakyat benar-benar kehilangan harapan?” lanjutnya.
[Red]









