InfoMatoa, (Sorong) | Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Papua Barat Daya sebagai trend center kerukunan umat beragama di Indonesia.
Jalan Sehat Jadi Simbol Kerukunan Lintas Agama
Ajakan tersebut disampaikan Menteri Agama saat melepas kegiatan Jalan Sehat Kerukunan Lintas Agama di Kota Sorong, Sabtu (13/12). Pada kesempatan itu, Menteri Agama melepas kegiatan bersama Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu. Selanjutnya, para peserta berjalan dari Gereja Immanuel Kota Sorong menuju Masjid Raya Kota Sorong.
Menteri Agama hadir bersama Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Jeane Marie Tulung. Selain itu, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) ikut menghadiri kegiatan tersebut. Direktur Urusan Agama Kristen Luksen Jems Mayor dan Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya Barnabas Dowansiba juga hadir di lokasi. Sementara itu, para tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, dan ribuan warga dari berbagai latar belakang agama dan suku memadati area kegiatan.
Menag Dorong Papua Barat Daya Jadi Rujukan Toleransi
Menteri Agama menjelaskan bahwa ia datang ke Papua Barat Daya karena kedekatan emosional. Di sisi lain, ia menegaskan tanggung jawab kebangsaan dalam menjaga kerukunan umat beragama.
“Saya merasa berkewajiban datang ke Papua Barat Daya karena saya merasa seperti pulang kampung. Banyak keluarga saya tinggal di Sorong, dan saya orang Makassar. Banyak saudara-saudara kita dari Papua yang sekolah di Makassar. Kami merasa Papua adalah bagian dari diri kami sendiri,” ujar Menteri Agama.
Menurut Menteri Agama, tanah Papua memiliki posisi penting dalam perjalanan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, seluruh elemen pemerintah harus memberi perhatian khusus kepada masyarakat Papua.
“Karena itu, saya berkewajiban memberi perhatian khusus kepada warga masyarakat Papua sebagai bagian utuh dari Indonesia,” tegasnya.
Selanjutnya, Menteri Agama mengajak masyarakat memandang perbedaan sebagai anugerah. Ia menilai perbedaan perlu disyukuri agar kehidupan bersama tetap harmonis.
“Hari ini kita merayakan perbedaan. Jangan meratapi perbedaan, tetapi mensyukuri perbedaan. Tidak indah sebuah lukisan jika putih melulu, sekalipun bingkainya emas. Indahnya lukisan justru karena warna-warni,” jelasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa Tuhan menciptakan keberagaman umat beragama. Karena itu, semua pihak harus menjaga keberagaman tersebut bersama-sama.
“Kita semua di sini adalah lukisan Tuhan yang sangat cantik. Lukisan itu tidak boleh diacak-acak dan tidak boleh dirusak,” tambahnya.
Berikutnya, Menteri Agama menyampaikan harapan agar Papua Barat Daya menjadi rujukan nasional dalam praktik toleransi dan kehidupan damai antarumat beragama.
“Ke depan, Papua Barat Daya diharapkan menjadi trend center. Jika ingin belajar tentang toleransi, kedamaian, dan keharmonisan, datanglah ke Papua Barat Daya,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama menyinggung gerakan mempapuakan Indonesia. Melalui program tersebut, Kementerian Agama menanam satu juta pohon matoa di berbagai daerah.
“Kami menanam satu juta pohon matoa, tanaman khas Papua, di berbagai daerah di Indonesia. Ini bagian dari kecintaan kita kepada Papua dan komitmen kita kepada Indonesia,” katanya.
Menutup sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa Jalan Sehat Kerukunan Lintas Agama menyampaikan pesan persatuan kepada dunia.
“Gerak jalan lintas agama ini kita perlihatkan kepada langit dan bumi, bahwa meskipun berbeda, kita bisa kompak dan bersatu,” pungkasnya.
Kegiatan Jalan Sehat Kerukunan mengusung tema “Merawat Semesta dengan Cinta – Love in God, Harmony Together”. Setelah itu, Menteri Agama bersama tokoh lintas agama menandatangani prasasti. Selain itu, panitia menyerahkan pohon matoa sebagai simbol penguatan moderasi beragama dan persatuan bangsa, khususnya di Papua Barat Daya. [Red]









