InfoMatoa, (Kab. Raja Ampat) | Bidang Infrastruktur Tim KKN-PPM UGM Unit PBD005 “Raja Ampat Berkisah” meluncurkan inisiatif edukatif dan kreatif melalui program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Pulau Jefman, Kabupaten Raja Ampat. Program ini dimulai dengan penyediaan tempat sampah daur ulang dari barang bekas dan kegiatan edukasi langsung kepada siswa-siswi TK Negeri 2 Jefman.
Inisiatif ini tidak hanya menjawab persoalan keterbatasan fasilitas kebersihan di Pulau Jefman, namun juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di sektor pendidikan dan aksi terhadap perubahan iklim.
Tempat sampah yang dibuat tim KKN memanfaatkan barang-barang bekas seperti ember cat yang disulap menjadi media edukatif. Tempat sampah ini dirancang secara visual menarik, diberi label organik dan anorganik, dan ditempatkan di tujuh titik strategis: TK Negeri 2 Jefman, SDN 12 Yefman Barat, SMPN 13 Raja Ampat, Balai Desa, serta masjid kampung.
“Tujuan kami adalah mengedukasi masyarakat sejak usia dini tentang pentingnya memilah sampah, mengenali jenis-jenis sampah, serta memahami prinsip pengelolaan sampah 3R—Reduce, Reuse, dan Recycle,” ujar Sylvia, salah satu anggota tim KKN UGM, Jumat (1/8/2025).
Kegiatan edukasi berlangsung secara interaktif, mulai dari pengenalan konsep hingga praktik langsung memilah sampah yang dikumpulkan dari lingkungan sekolah. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menanamkan nilai kebersihan dan tanggung jawab lingkungan kepada anak-anak.

Selain aspek pendidikan, program ini juga diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam menjaga citra Pulau Jefman sebagai destinasi pariwisata yang bersih dan asri. Di tengah peningkatan kunjungan wisata, aspek kebersihan menjadi elemen penting dalam menunjang daya tarik wilayah.
Sekolah dan fasilitas umum dijadikan titik awal, dengan rencana jangka panjang untuk memperluas jangkauan edukasi hingga ke masyarakat umum dan komunitas lokal lainnya.
Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis partisipasi, program ini diharapkan dapat menjadi contoh baik bagi daerah-daerah lain yang menghadapi tantangan serupa, sekaligus membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana—dan dari generasi paling muda. (Red)









