InfoMatoa, (Jayapura) | Di balik terang lampu yang menyinari rumah-rumah dan roda ekonomi yang terus berputar di Tanah Papua, tersimpan kisah pengabdian para awak mobil tangki (AMT). Mereka adalah garda terdepan yang memastikan energi—bahan bakar minyak (BBM)—tiba di wilayah-wilayah terpencil dan sulit dijangkau.
Dedikasi di Jalan Terjal
Salah satunya adalah Ismail Hasan, pengemudi tangki yang sudah lebih dari sepuluh tahun menempuh rute berat menuju pegunungan Wamena dan sekitarnya. Medan licin, cuaca ekstrem, serta risiko keselamatan menjadi tantangan yang ia hadapi setiap hari. Namun, berkat penerapan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) secara konsisten, keselamatan kini menjadi budaya kerja di setiap perjalanan.
“Dulu kami sering berangkat hanya dengan perencanaan sederhana. Sekarang setiap perjalanan selalu diawali dengan briefing keselamatan, pemeriksaan kendaraan, dan pengecekan kondisi pengemudi.” tutur Ismail.
HSSE Sebagai Pilar Utama
Sistem HSSE menjadi pondasi utama dalam menjaga keselamatan pengemudi dan kelancaran distribusi energi. Setiap kendaraan diperiksa sebelum berangkat, sementara pengemudi wajib dalam kondisi fit. Selain itu, setiap rute dianalisis berdasarkan potensi risikonya.
“Dulu yang penting cepat sampai, sekarang yang utama adalah aman sampai. Kami lebih tenang karena tahu keselamatan kami jadi prioritas.” ujar Winarno, rekan Ismail.
Solidaritas di Tengah Medan Berat
Di tengah kondisi geografis Papua yang menantang—dari hujan deras hingga jalan pegunungan terjal—pengemudi harus tetap adaptif. Jika jalur utama tertutup, tim segera berkoordinasi dengan pusat untuk mencari rute alternatif. Oleh karena itu, rasa solidaritas tumbuh kuat di antara sesama sopir. Mereka saling menjaga di jalan panjang dan sepi.
“Kami ini satu keluarga di jalan. Tidak ada yang dibiarkan sendiri.” kata Ismail dengan bangga.
Kebijakan dan Teknologi Pendukung
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Awan Raharjo, menegaskan bahwa setiap keputusan operasional selalu melalui analisis risiko yang ketat.
“Kondisi geografis Papua berbeda. Karena itu, HSSE bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan agar setiap proses berjalan aman dan efisien.” jelas Awan.
Selain itu, Pertamina rutin mengadakan pelatihan tanggap darurat, kampanye Bulan K3, serta menerapkan sistem pemantauan armada berbasis digital. Dengan cara ini, keselamatan dan efisiensi kerja dapat terus terjaga.
Nilai Kemanusiaan di Balik Nyala Energi
Lebih dari sekadar prosedur, HSSE menjadi wujud tanggung jawab moral bagi seluruh pekerja. Setiap pengemudi yang pulang selamat berarti keluarga di rumah bisa tenang. Begitu pula, setiap liter BBM yang tiba di pelosok berarti masyarakat dapat melanjutkan aktivitas dan perekonomian mereka.
“Keselamatan kami adalah bagian dari kesejahteraan masyarakat. Setiap perjalanan adalah tanggung jawab moral.” ungkap Winarno.
Kini, ketika malam tiba dan lampu-lampu menyala di lereng pegunungan Papua, para awak mobil tangki tahu: di balik setiap cahaya itu ada kerja keras, disiplin, dan ketulusan yang menjaga agar pemerataan energi di ujung timur Indonesia tetap menyala. [Red]









