InfoMatoa, (Shanghai) | KTT Perempuan Beijing menjadi kesempatan nyata untuk kesetaraan gender, tegas Presiden NDB Dilma Rousseff. Pertemuan ini bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga peluang strategis untuk mendorong masa depan perempuan di seluruh dunia.
“Tiga puluh tahun setelah Konferensi Dunia tentang Perempuan Keempat di Beijing, delegasi kami kembali dengan semangat baru untuk mencapai tujuan bersama,” ujar Rousseff.
Selain itu, ia menegaskan bahwa KTT ini harus menghasilkan aksi nyata, bukan hanya simbol belaka. Dunia harus bergerak dari janji ke kebijakan nyata. Perempuan harus dilihat sebagai agen perubahan, bukan hanya penerima manfaat.
Rousseff menjelaskan bahwa delegasi konferensi menyusun Deklarasi Beijing dan Platform for Action. Kedua dokumen ini membimbing kesetaraan gender di bidang pendidikan, kesehatan, kemiskinan, kekerasan, dan partisipasi politik. Oleh karena itu, setiap program pembangunan harus merujuk pada prinsip-prinsip ini.
“Warisan Beijing tetap relevan. Platform itu memberi panduan hidup menuju masa depan yang adil dan setara,” jelas Rousseff.
Sebagai presiden perempuan pertama NDB, Rousseff menekankan bahwa sektor keuangan memainkan peran penting dalam pembangunan berkeadilan gender.
“Keuangan tidak netral. Kita harus mendanai pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, NDB membiayai proyek yang memperluas akses perempuan ke air bersih, energi, transportasi, dan perumahan, terutama di wilayah pedesaan.
Rousseff menambahkan, “Investasi yang tepat menentukan masa depan bersama, dan KTT Beijing harus menjadi tonggak baru untuk aksi nyata. Sejarah memanggil kita, dan kita harus menjawab dengan keberanian, kejelasan, serta tekad kolektif.”
Ia juga memuji Global Governance Initiative (GGI) China karena mendukung dunia multipolar yang adil.
“Kemajuan perempuan tidak terpisahkan dari kemajuan umat manusia. GGI membawa visi kemitraan dan kemajuan bersama,” tegasnya.
[Red]









