InfoMatoa, (AS) | Klaim penangkapan Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat dalam operasi militer rahasia di Caracas kini mengguncang dunia. Operasi tersebut menjadi puncak agresi Donald Trump terhadap Venezuela. Trump terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Venezuela sejak periode pertamanya berkuasa.
Presiden Trump menyatakan bahwa satuan elite Delta Force menangkap Maduro dan Cilia Flores. Petugas menangkap keduanya di kediaman pribadi pada tengah malam. Tim elite tersebut membawa paksa mereka keluar dari kamar tidur. Selanjutnya, helikopter militer menerbangkan keduanya menuju kapal induk USS Iwo Jima. Petugas kemudian memindahkan mereka ke New York untuk proses hukum.
Trump menyebut operasi ini berlangsung setelah tim menunggu kondisi cuaca yang tepat. Ia menggambarkan lokasi penangkapan sebagai benteng dengan sistem pengamanan sangat ketat. Washington mengklaim Maduro kini mendekam di pusat tahanan federal Brooklyn. Ia akan menghadapi dakwaan narkoterorisme di pengadilan federal Manhattan.
Operasi Militer dan Dakwaan Narkoterorisme
Penangkapan ini menambah daftar panjang pemimpin asing yang jatuh ke tangan Amerika Serikat. Sebelumnya, AS pernah menangkap Manuel Noriega, Saddam Hussein, hingga Juan Orlando Hernández. Ketegangan antara Washington dan Caracas meningkat tajam sejak Trump menjabat kembali pada 2024. Trump secara konsisten menolak pengakuan atas kemenangan Maduro dalam pemilu. Pihak AS menuding pesta demokrasi tersebut sarat akan praktik kecurangan.
Sepanjang 2025, militer AS meningkatkan tekanan dengan pengerahan kapal perang dan jet F-35. Mereka juga menyiagakan helikopter serta pesawat Osprey di kawasan Karibia. Pada September lalu, militer AS melancarkan penyergapan terhadap kapal berbendera Venezuela. Insiden tersebut menewaskan 11 orang di lokasi kejadian. Namun, Caracas membantah keras klaim AS terkait operasi anti-narkoba tersebut.
Perebutan Sumber Daya dan Masa Depan Venezuela
Washington menuduh Maduro memimpin jaringan narkoba “Cartel de los Soles”. AS telah menetapkan kelompok tersebut sebagai organisasi teroris berbahaya. Bahkan, Trump menawarkan hadiah US$50 juta bagi penangkap Maduro. Namun, sejumlah negara Amerika Latin menilai tuduhan narkoba tersebut hanyalah sebuah dalih. Mereka menduga AS ingin menggulingkan rezim Maduro demi menguasai cadangan minyak. Data EIA menyebut cadangan minyak Venezuela mencapai 303 miliar barel. Angka ini merupakan jumlah terbesar di dunia.
Berdasarkan Konstitusi Venezuela 1999, Wakil Presiden Delcy Rodríguez memegang urutan pertama suksesi. Selanjutnya, Ketua Majelis Nasional Jorge Rodríguez serta Diosdado Cabello menyusul dalam struktur tersebut. Trump mengakui pihak AS akan ikut campur menentukan masa depan Venezuela pasca penangkapan.
“Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan,” ujar Trump kepada Fox News.
[Red]









