InfoMatoa, (Fakfak) | Suasana Terminal Tumburuni mendadak berbeda dari biasanya pada Minggu (16/11). Di tengah deretan angkot berwarna mencolok dan arus warga yang baru kembali dari Pasar Rakyat Tumburuni baru, perhatian mendadak tertuju pada seorang penumpang tak biasa yang tiba-tiba duduk di kursi sopir.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, tampak mantap memegang setir sambil tersenyum lebar dan bercengkerama dengan warga. Kehadirannya di Fakfak sebenarnya untuk agenda resmi meresmikan Pasar Rakyat Tumburuni. Namun seusai kegiatan, ia memilih singgah ke Terminal Tumburuni—tempat yang menyimpan jejak perjalanan hidupnya di masa muda.
Di terminal inilah, bertahun-tahun lalu, Bahlil pernah bekerja sebagai kondektur hingga sopir angkot. Hingga akhirnya menapaki jalan panjang menuju dunia pemerintahan di Jakarta. Tak heran jika warga sempat terkejut ketika ia turun dari mobil dinas dan langsung menuju salah satu angkot yang terparkir. Dengan santai ia membuka pintu, menyapa sopir, lalu mengambil tempat di kursi pengemudi.
Gelak tawa warga pecah saat Bahlil berkelakar, “Ini tempat saya dulu cari makan, saudara-saudara. Sudah lama tidak narik, kangen juga.”
Tak butuh waktu lama baginya untuk menghidupkan mesin dan menggerakkan angkot maju perlahan, seolah mengulangi rutinitas yang pernah ia jalani ribuan kali. Warga pun menyambut antusias, mengabadikan momen langka tersebut dengan ponsel mereka.
Aksi spontan itu sesungguhnya bukan hal baru. Bahlil dikenal kerap menyempatkan diri bernostalgia ketika mengunjungi tempat-tempat yang pernah membentuk perjalanan hidupnya. Pada 2 Februari 2025, ia bahkan menceritakan kembali masa remajanya di Fakfak yang ditempa oleh pekerjaan sebagai kernet dan sopir angkot.
“Saya kondektur angkot tiga tahun di terminal. Jadi sopir angkot dua tahun waktu sekolah SMA. Kuliah juga bawa angkot,” kisahnya kala itu.
Sebuah pengingat bahwa perjalanannya tidak bermula dari ruang-ruang rapat, melainkan dari jalan-jalan kecil yang pernah ia lintasi sebagai anak muda pencari nafkah. [Red]









