InfoMatoa, (Kep. Yapen) | Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kepulauan Yapen menggelar Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) untuk memperingati Hari AIDS Sedunia, Senin (1/12), di Alun-alun Trikora Serui. Kegiatan ini mengusung tema “Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Pelayanan HIV Kabupaten Kepulauan Yapen” dan menjadi momentum refleksi serta seruan komitmen bersama menghadapi situasi HIV/AIDS yang masih mengkhawatirkan.
Dr. Andi, Sekretaris Dinas Kesehatan sekaligus Sekretaris KPA Yapen, memimpin acara. Wakil Bupati Roi Palunga, Ketua DPRK Ebson Sembai, tokoh agama lintas denominasi, perwakilan Polres Kepulauan Yapen, masyarakat, serta Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) turut hadir dalam kegiatan ini.
Dalam penyuluhan yang dibawakan Dr. Andi, ia memaparkan data terbaru per 30 September 2025. Data menunjukkan total 2.962 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kepulauan Yapen, termasuk 195 kasus baru dan 475 kematian. Dua wilayah mencatat jumlah kasus tertinggi, yakni Kecamatan Anataoure dengan 1.884 kasus dan Yapen Selatan dengan 596 kasus.
“Kelompok usia produktif 25–49 tahun paling rentan, dengan 2.192 kasus berasal dari penularan heteroseksual,” jelas Dr. Andi.
Ia menambahkan, meski 1.590 ODHA telah menjalani terapi ARV, masih ada 1.372 ODHA yang belum mengakses layanan kesehatan. Kondisi ini menjadi tantangan besar dan membutuhkan perhatian serius. Penanganan koinfeksi TB-HIV juga terus meningkat.
Wakil Bupati Roi Palunga menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa menangani HIV/AIDS sendiri. Semua elemen masyarakat harus berkomitmen dan ambil peran aktif.
“Angka 2.962 kasus adalah peringatan keras. Ini bukan hanya pekerjaan pemerintah, tetapi juga keluarga, gereja, masjid, dan semua pihak. Orang tua harus menjadi benteng utama untuk mencegah anak dari pergaulan bebas,” tegasnya.
Tokoh agama Pdt. Christian Tanawani mengajak masyarakat mendukung ODHA dan menghapus stigma terhadap mereka.
“Mereka tidak boleh dijauhi. Mereka perlu didukung, didoakan, dan dikuatkan. Kita percaya bahwa Tuhan mampu memulihkan,” ujarnya.
Panitia menutup kegiatan dengan sesi foto bersama. Mereka juga menandatangani MoU pencegahan HIV/AIDS bersama berbagai unsur masyarakat untuk menunjukkan komitmen kolektif menjaga keberlanjutan layanan HIV/AIDS di Yapen.
Kegiatan MRAN di Kepulauan Yapen diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum nyata bagi masyarakat dan pemerintah untuk memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor dalam menekan penyebaran HIV/AIDS. [Red]









