InfoMatoa, (Merauke) | Pemerintah Kabupaten Merauke secara resmi meluncurkan Forum Peduli Perlindungan Perempuan dan Anak. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Thobias Mbearme Kantor Bupati Merauke, Jl. RE Martadinata No. 22, Kamis (20/11). Acara ini dipimpin Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah, S.HI., M.H. Selain itu, Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Mr. Philip Natan Taula, ikut hadir bersama sekitar 100 tamu undangan.
Visi Forum dan Penguatan Layanan Perlindungan
Forum ini memiliki visi mewujudkan layanan yang responsif dan terintegrasi. Fokusnya pada pencegahan, penanganan, dan pemulihan perempuan serta anak korban kekerasan. Selain itu, misi forum mencakup penguatan koordinasi lintas sektor dan peningkatan kapasitas SDM layanan. Forum juga menyediakan ruang gelar kasus untuk menangani laporan yang membutuhkan perhatian khusus.
Dalam sambutannya, Nuwzelan Hana Satriyo, Country Representative Asia Foundation, menekankan pentingnya pengawasan anggaran bagi program ibu dan anak. Ia juga menyoroti perlunya penanganan komprehensif terhadap kekerasan berbasis gender. Menurutnya, faktor ekonomi, sosial, dan budaya sangat memengaruhi kasus tersebut. Ia berharap Papua dapat mengadopsi praktik baik dari daerah lain seperti Yogyakarta.
Dukungan Mitra Internasional dan Komitmen Daerah
Sementara itu, Dubes Selandia Baru Philip Natan Taula menyampaikan komitmen negaranya untuk mendukung perlindungan perempuan dan anak di Indonesia Timur, termasuk Papua. Ia menekankan kerja sama banyak pihak melalui Program BERDAYA. Program ini telah berjalan sejak 2022 untuk menekan angka kekerasan serta memperluas akses layanan hukum bagi korban.
Perwakilan Kementerian PPPA, Dra. Siti Nia Nurhasanah, mengapresiasi pembentukan forum tersebut. Menurutnya, pendekatan kolaboratif sangat penting untuk memastikan hak-hak perempuan dan anak terpenuhi. Ia juga menegaskan perlunya sinergi semua pemangku kepentingan agar layanan perlindungan semakin kuat.
Wakil Bupati Merauke, Fauzun Nihayah, kembali menekankan bahwa isu perempuan dan anak merupakan persoalan masa depan daerah. Ia menyebut sejumlah tantangan yang masih dihadapi, seperti kekerasan seksual, beban ganda perempuan, dan meningkatnya pernikahan dini. Selain itu, ia juga menyoroti kasus kriminal berat yang baru terjadi terhadap anak. Ia berharap forum ini menjadi ruang bersama untuk mencari solusi dan menyatukan komitmen semua pihak. [Red]









