InfoMatoa, (Merauke) | Asosiasi Perempuan Asli Papua Selatan resmi menggelar Kongres ke-1 sekaligus Pelantikan Pengurus Periode 2025-2030 pada Senin (24/11). Gubernur Provinsi Papua Selatan, Prof. Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., M.T., I.P., membuka acara bertema “Perempuan Asli Papua Merawat Identitas, Bersatu Untuk Perubahan dan Berdaya untuk Masa Depan” secara langsung di Swiss-Belhotel Merauke.
Kongres bersejarah ini dihadiri sekitar 700 tamu undangan, termasuk Ketua MRP Papua Selatan Damianus Katayu dan berbagai tokoh perempuan dari empat kabupaten.
Bangkit dari Keterbatasan Adat
Ketua Panitia Pelaksana, Natalia Pascalina Teraka, SKM, menyoroti peran ganda perempuan asli Papua sebagai penjaga hutan, tanah, dan sumber daya. Namun, ia menekankan bahwa perempuan masih menghadapi keterbatasan.
“Peran perempuan asli Papua Selatan di berbagai ruang publik belum sepenuhnya terlihat, baik di bidang usaha, politik, pemerintahan, maupun ruang sosial lainnya. Kita masih sering dipandang sebagai warga nomor 2, terutama dalam struktur adat,” ujar Natalia.
Meski demikian, Kongres ini menjadi momentum untuk menyuarakan hak perempuan dan memperkuat kapasitas mereka. Selain itu, acara ini merancang arah perjuangan ke depan dengan memanfaatkan kesamaan identitas budaya dan semangat perjuangan.
Perempuan sebagai Penentu Masa Depan Bangsa
Ketua MRP Papua Selatan, Damianus Katayu, memberikan apresiasi tinggi. Ia mengakui bahwa gerakan emansipasi perempuan Papua seringkali terbatas oleh adat istiadat dan budaya yang masih melekat. Selain itu, peran perempuan sering dibatasi pada urusan domestik. Namun, Damianus memuji ketangguhan mereka.
Gubernur Papua Selatan, Prof. Dr. Ir. Apolo Safanpo, menyampaikan perspektif filosofis mengenai peran strategis perempuan.
“Pesan orang bijak bilang, kalau kita mau lihat masa depan suatu kaum, cukup lihat anak-anak mudanya saja. Kalau kita mau lihat masa depan anak-anak asli Papua Selatan, kuncinya ada di tangan ibu-ibu, mama-mama, adik-adik, kakak-kakak, saudara-saudara perempuan,” tegas Gubernur.
Selain itu, Gubernur mendorong perempuan untuk mengambil peran kunci tersebut. Perempuan diharapkan tidak hanya menjadi penentu masa depan generasi muda, tetapi juga pelestari budaya. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Selatan mendukung penuh asosiasi ini.
Kongres pertama ini menghimpun suara dan aspirasi perempuan dari seluruh wilayah Papua Selatan. Dengan demikian, acara ini memperkuat identitas budaya dan menyusun rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah serta lembaga adat. Tujuannya untuk meningkatkan peran perempuan di berbagai sektor kehidupan. [Red]









