InfoMatoa, (Asmat) | Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat di Distrik Agats menjadi pusat penyelenggaraan Seminar Kebudayaan Lokal Asmat, Kamis (11/12). Guru dan siswa SMP YPPK Yohanis Pemandi Agats mengikuti seminar tersebut. Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk pemberdayaan dan edukasi budaya bagi generasi muda Asmat.
Acara berlangsung dengan sambutan dari Martha Cawy yang menekankan pentingnya pemahaman budaya Asmat di kalangan generasi muda. Ia menyampaikan bahwa banyak anak Asmat belum memahami budaya mereka sendiri. Selain itu, ia menilai kegiatan ini sebagai ruang belajar bersama di museum. Martonsia Santi Dolorosa W kemudian menyampaikan materi utama tentang peran pemuda dalam melestarikan identitas budaya. Ia menjelaskan pentingnya pendidikan, karakter yang baik, serta nilai budaya yang harus dijaga sejak usia sekolah.
Panitia melanjutkan seminar dengan kegiatan jelajah pameran museum. Siswa mengunjungi ruang pameran sementara dan ruang pameran tetap. Selain itu, mereka mendapatkan pengalaman langsung mengenai sejarah, seni ukir, nilai budaya, dan identitas masyarakat Asmat.
Pada sesi talk show, Martonsia dan Martha menjelaskan makna kebudayaan dan tantangan modernisasi. Mereka juga menyoroti peran besar siswa dalam menjaga tradisi melalui bahasa daerah, seni, media sosial, dan keterlibatan di kegiatan kampung. Selain itu, mereka menekankan pentingnya rumah adat Je sebagai ruang pembelajaran budaya. Mereka menyebut bahwa budaya adalah “GPS kehidupan” yang menuntun generasi muda mengenal jati diri.
Panitia menilai seminar ini selaras dengan program Dinas Pendidikan tentang pembelajaran digital berbasis budaya Asmat yang berjalan sejak Oktober 2025. Selain memperkuat muatan lokal, kegiatan ini memberi ruang bagi DPC BMP Kabupaten Asmat untuk berkontribusi lebih besar dalam pengembangan pendidikan budaya. Para siswa juga mengusulkan kelas budaya mingguan. Selain itu, mereka mengajukan pembentukan “Duta Budaya Sekolah Asmat” untuk menjaga keberlanjutan program. [Red]









