InfoMatoa (Papua Selatan) | Gelombang aksi demonstrasi yang berujung ricuh di Jakarta dan sejumlah daerah pada 28–30 Agustus 2025 mendapat perhatian serius dari berbagai tokoh adat, agama, dan masyarakat di Papua Selatan. Mereka kompak menyerukan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga kedamaian di tanah Papua.
Sekretaris Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Asmat, Gaspar Manmak, menegaskan bahwa tanah Asmat harus dijaga dari segala bentuk provokasi yang bisa memecah belah persatuan.
“Kami dengan tegas menolak aksi demonstrasi yang terjadi di Jakarta. Masyarakat jangan mudah terpengaruh, tetaplah menjaga persatuan agar tercipta situasi yang tertib, aman, dan kondusif demi kedamaian tanah Asmat,” ujar Gaspar.
Nada serupa juga disampaikan Fredi Kaibu, Ketua Ikatan Keluarga Besar Suku Auyu Mappi. Ia menekankan bahwa menyampaikan aspirasi adalah hak setiap warga negara, namun harus dilakukan secara damai.
“Mari kita jaga situasi tetap kondusif. Jangan mudah terprovokasi oleh tindakan anarkis. Aspirasi boleh disampaikan, tapi harus dengan cara yang bijak dan sesuai aturan yang berlaku,” pesannya.
Sementara itu, Yoseph Yanuwo Yolmen, S.Pd., M.Si., Kepala BP3OKP Provinsi Papua Selatan, menyoroti dampak buruk aksi anarkisme. Ia menyebut tindakan seperti itu tidak membawa manfaat, justru merugikan banyak pihak.
“Kita harus selalu menjaga persatuan, ketertiban, dan perdamaian di tanah Papua maupun di seluruh NKRI. Aksi anarkisme sangat merugikan dan tidak bisa dibenarkan. Aspirasi seharusnya disampaikan dengan bijak, sesuai peraturan, dan masyarakat jangan sampai terprovokasi,” ungkapnya.
Seruan para tokoh ini mencerminkan tekad bersama masyarakat Papua Selatan untuk menjaga keharmonisan dan tidak terseret dalam arus provokasi yang bisa memecah belah bangsa. Mereka berharap suara damai dari timur Indonesia bisa menjadi penyejuk di tengah tensi politik dan sosial yang memanas. [Red]









