InfoMatoa, (Keerom) | Suasana penuh sukacita mewarnai halaman Kantor Klasis GKI Keerom pada Rabu (5/11). Festival Seni Budaya dan Persembahan Hasil Bumi ke-II Tahun 2025 digelar dengan tema “Berkati dan Lindungi Kami Hu (ny. Roh 19)”. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan HUT GKI ke-19 dan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serba Guna Klasis GKI Keerom.
Pdt. Hiskia Rollo, S.Th., MM., selaku Wakil Ketua I Sinode GKI Papua, memimpin jalannya kegiatan. Hadir pula Wakil Bupati Keerom Drs. H. Daud, M.Si., Kepala Kanwil Kemenag Yohanes Nahak, S.Ag., serta unsur TNI, Polri, dan para pimpinan jemaat GKI dari berbagai distrik.
Pawai kendaraan hias yang membawa hasil bumi dari setiap jemaat membuka rangkaian Festival Seni Budaya Keerom. Pawai ini melambangkan rasa syukur atas berkat Tuhan melalui tanah subur Keerom. Setelah pawai, peserta mengikuti doa bersama, laporan panitia, pelantikan Tim Kamp Kerja Unsur-unsur Jemaat (KKUJ), dan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serba Guna.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Keerom Drs. H. Daud, M.Si., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas semangat umat GKI Keerom.
“Persembahan hasil bumi menjadi wujud nyata rasa syukur kita kepada Tuhan atas tanah yang subur di Keerom. Melalui ajaran agama, kita diajak menjaga moral, menolak penyimpangan, serta memperkuat persatuan dan toleransi agar kehidupan di Keerom tetap damai dan harmonis.” ujarnya.
Sementara itu, Pdt. Hiskia Rollo menekankan pentingnya sinergi antara gereja dan pemerintah dalam membangun kesejahteraan masyarakat Keerom.
“Badan Pekerja Klasis GKI Keerom harus terus mendukung program pembangunan pemerintah. Bila gereja atau pemerintah melakukan kesalahan, keduanya harus saling menegur demi kebaikan bersama.” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi 37 jemaat GKI di bawah Klasis Keerom yang aktif mendukung pelayanan rohani dan pemberdayaan umat. Acara berakhir dengan prosesi persembahan hasil bumi dari berbagai suku di Keerom yang berlangsung tertib dan penuh kebersamaan.
Festival ini menjadi momentum memperkuat iman, solidaritas, dan persaudaraan antarjemaat serta meneguhkan komitmen gereja dan pemerintah dalam membangun masyarakat Keerom yang sejahtera dan rukun di perbatasan Papua. [Red]









