InfoMatoa, (Keerom) | Pemerintah Kabupaten Keerom bersama Kementerian Transmigrasi terus berkomitmen memperkuat kemandirian masyarakat melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Transmigrasi Bidang Kelembagaan Ekonomi. Kegiatan ini diselenggarakan di Genofa Meeting Room Arso Grande Hotel, Distrik Arso Kota, yang menjadi bagian dari upaya nyata meningkatkan kapasitas masyarakat di Kawasan Transmigrasi Senggi, Papua. (21/10)
Penguatan Kapasitas Ekonomi dan Inovasi Lokal
Dalam laporannya, Ardian Hidayat menjelaskan bahwa bimtek berlangsung selama lima hari, dari 21 hingga 25 Oktober 2025. Sebanyak 45 peserta yang berprofesi sebagai petani serta lima pendamping dari dinas teknis mengikuti kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga melakukan praktik langsung untuk meningkatkan keterampilan kewirausahaan. Hasilnya diharapkan terbentuk sedikitnya tiga Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang berfokus pada pengolahan hasil pertanian dan perkebunan lokal. Produk-produk seperti keripik sagu, selai buah merah, hingga kerajinan tangan khas Papua diharapkan menjadi identitas ekonomi baru yang bernilai jual tinggi.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menekankan pemberdayaan ekonomi perempuan Papua agar mereka berperan aktif dalam pengembangan keluarga dan masyarakat. Selain itu, bimtek turut mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang memanfaatkan potensi alam dan budaya lokal, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Pusat
Wakil Bupati Keerom, Drs. H. Daud, M.Si, menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Transmigrasi yang telah memperhatikan pembangunan di kawasan Senggi. Ia menilai kegiatan ini sangat relevan dengan visi daerah, yaitu “Keerom Maju, Transformatif, Mandiri, Bermartabat, dan Berkelanjutan”.
“Pemerintah daerah berterima kasih atas sinergi dengan pemerintah pusat yang terus mendukung penguatan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan, termasuk melalui program transmigrasi yang berpihak pada kemandirian ekonomi lokal.“ujar Daud.
Pendekatan Inklusif dan Kearifan Lokal
Lebih lanjut, Daud menekankan bahwa pelaksanaan program transmigrasi harus mempertimbangkan aspek sosial dan kultural masyarakat asli Papua (OAP). Menurutnya, pendekatan berbasis kearifan lokal sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memperkuat harmoni sosial.
“Kami ingin program transmigrasi ke depan menjadi lebih inklusif, humanis, dan partisipatif, agar kesejahteraan masyarakat lokal dan transmigran dapat berjalan beriringan.“tambahnya.
Melalui kegiatan bimtek ini, pemerintah daerah berharap lahir wirausaha baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal. Dengan demikian, kawasan transmigrasi Senggi tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga contoh keberhasilan kolaborasi antara masyarakat lokal, transmigran, dan pemerintah dalam membangun Papua yang mandiri dan berkelanjutan. [Red]









