InfoMatoa, (Fakfak) | Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmorojati, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya menghadirkan bibit kelapa hibrida di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pengembangan bibit tersebut membutuhkan rekayasa dan teknik khusus, sehingga prosesnya tidak bisa dilakukan secara sederhana.
“Proses pembibitan kelapa hibrida atau kelapa genja entok memerlukan ovulasi dan perlakuan khusus, hampir sama seperti teknik grafting pada tanaman pala.” jelas Widhi.
Karena prosesnya kompleks, Dinas Perkebunan Fakfak saat ini bekerja sama dengan sejumlah daerah yang sudah lebih dulu berhasil mengembangkan bibit kelapa hibrida. Tahun ini, Fakfak menerima pasokan bibit dari beberapa kabupaten di luar Papua Barat, termasuk dari Manado. Meskipun jumlahnya belum banyak, langkah ini menjadi awal untuk memperkuat produktivitas kelapa di Fakfak.
Widhi menuturkan, kepemimpinan sebelumnya sudah memprakarsai program pengembangan kelapa hibrida di Fakfak. Namun, skalanya masih kecil dan belum memberi dampak besar terhadap peningkatan produksi. Saat ini, pihaknya menyiapkan strategi pengembangan bertahap dengan memanfaatkan area pesisir dan pantai yang masih kosong untuk penanaman.
“Kami berharap ke depan tersedia kawasan khusus yang bisa menjadi sentra perkebunan kelapa hibrida.” ujarnya.
Menurut Widhi, potensi geografis dan iklim Fakfak sangat mendukung pengembangan kelapa. Ia meyakini, dengan pengelolaan yang tepat, kelapa hibrida dapat menjadi komoditas unggulan daerah.
“Target kami bukan hanya menambah jumlah produksi, tetapi juga meningkatkan kualitas kelapa Fakfak agar mampu bersaing dengan daerah lain.” pungkas Widhi.
[Red]









