InfoMatoa, (Boven Digoel) | Perempuan Muyu di Kabupaten Boven Digoel meneguhkan komitmennya untuk berdaya dan bersatu membangun masa depan. Komitmen tersebut dituangkan pada Musyawarah Daerah serta Pelantikan Badan Pengurus Ikatan Perempuan Muyu Kabupaten Boven Digoel Periode 2025–2028. Mereka menyelenggarakan kegiatan itu di Aula Kantor Bupati, Jl. Trans Papua KM 01, Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, (3/11).
Wakil Bupati Marlinus memimpin musyawarah yang bertema “Perempuan Asli Papua Selatan Merawat Identitas, Bersatu untuk Perubahan, dan Berdaya untuk Masa Depan” tersebut. Acara ini mempertemukan berbagai tokoh perempuan, tokoh masyarakat, serta unsur Forkopimda.
Tokoh yang hadir antara lain Natalia Kalo, Lettu Inf Yoris Sewimara, dan Silvia Veronica Yarangga Tabuni yang mewakili unsur pemerintahan. Selain itu, hadir pula Suster Antoneta dari Paroki Hati Kudus Tanah Merah yang membawa semangat pembinaan rohani dan sosial. Sementara itu, dari unsur adat, tampak Canisius Bembob, SH, dan Yohanes Kewerot yang menunjukkan dukungan bagi peran perempuan Muyu.
Dalam sambutannya, Natalia Kalo menegaskan pentingnya pengakuan pemerintah daerah terhadap organisasi perempuan Muyu agar mereka dapat berperan aktif dalam pembangunan. Ia juga menyoroti perlunya dukungan anggaran bagi perempuan Papua Selatan untuk mengembangkan karya dan kreativitas.
“Saya harapkan musyawarah ini dapat memilih perwakilan perempuan Muyu yang memiliki pikiran baik untuk masa depan, dan kita perlu dukungan dari pemerintah daerah agar perempuan bisa lebih berkarya.” ujar Natalia.
Wakil Bupati Marlinus, membuka kegiatan tersebut dan menekankan peran penting perempuan dalam pembangunan sosial, ekonomi, serta budaya daerah.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam membangun keluarga dan masyarakat. Identitas budaya yang kuat berpadu dengan potensi besar yang dimiliki perempuan Muyu harus menjadi kekuatan sosial yang mendorong perubahan.” katanya.
Marlinus mengingatkan agar musyawarah tidak berhenti pada seremonial, tetapi menjadi wadah lahirnya ide baru dan memperkuat solidaritas antaranggota.
“Pengurus yang dilantik jangan hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar hadir sebagai penggerak perubahan yang nyata—dalam pendidikan, ekonomi, sosial, dan pelestarian nilai adat.” ujarnya.
Peserta dan tamu undangan menutup acara dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen perempuan Muyu untuk terus menjaga jati diri serta memperkuat peran mereka dalam pembangunan daerah.
Momentum musyawarah ini tidak sekadar menjadi ajang pergantian kepengurusan, tetapi juga mencerminkan kebangkitan perempuan Papua Selatan. Melalui kekuatan identitas, kebersamaan, dan kesadaran berdaya, menegaskan perempuan Muyu sebagai bagian penting dari pembangunan dan perubahan sosial di Tanah Papua. [Red]









