InfoMatoa, (Pegunungan Bintang) | Universitas OKMIN Papua di Distrik Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kamis (11/12), menjadi tuan rumah kunjungan akademik dan kuliah umum. Selain itu, kegiatan ini mengangkat tema Antropologi, Entoarkeologi, dan Etnologi Papua. Dua akademisi asing hadir, yakni Prof. Wulf Schiefenhovel dari Jerman dan Dr. Marian Bert R. Vanhaeren dari Belgia.
Dalam materi kuliah umumnya, Prof. Wulf menyampaikan materi penting berdasarkan penelitian yang ia publikasikan pada 2017. Ia memaparkan temuan tentang jejak hunian manusia masa lalu di Pegunungan Bintang. Selain itu, ia menjelaskan migrasi awal manusia Papua dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan ekstrem. Ia juga menyoroti kekayaan budaya serta bahasa Papua yang termasuk tertinggi di dunia. Menurutnya, keragaman itu muncul karena kondisi geografis terjal yang memisahkan kelompok masyarakat selama ribuan tahun.
Prof. Wulf membahas perubahan sosial masyarakat Mek dan Eipo sejak 1970-an. Ia menilai tingkat kekerasan menurun setelah pendidikan dan agama masuk ke wilayah tersebut. Selain itu, ia menyebut tradisi seperti pembuatan kapak batu dan ritual adat tetap bertahan hingga kini. Ia juga memperkenalkan konsep pseudospeciation sebagai proses pembentukan identitas kelompok. Terakhir, ia menegaskan potensi besar Pegunungan Bintang untuk penelitian arkeologi dan genetika karena wilayah ini masih minim eksplorasi ilmiah. [Red]









