InfoMatoa, (China) | Pemerintah China mengecam keras rencana terbaru Amerika Serikat (AS) untuk menjual senjata ke Taiwan. Nilai transaksi tersebut mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp183,9 triliun. Beijing menilai langkah itu melanggar kedaulatan China. Selain itu, tindakan tersebut berpotensi merusak stabilitas kawasan.
“Amerika Serikat secara terang-terangan mengumumkan rencananya menjual senjata canggih dalam jumlah besar ke wilayah Taiwan di China. Kami dengan tegas menentang dan mengutuk tindakan ini,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (18/12).
Sehari sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan telah menyetujui potensi penjualan senjata dan peralatan terkait kepada Taiwan. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer China terhadap pulau tersebut. Paket tersebut mencakup delapan sistem persenjataan utama. Peralatan itu termasuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS), rudal Javelin, dan 60 unit howitzer.
Defense Security Cooperation Agency (DSCA) menyebutkan penjualan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pertahanan diri Taiwan. Hal ini berguna dalam menghadapi ancaman saat ini maupun masa depan. Kementerian Pertahanan Taiwan mencatat total nilai usulan penjualan tersebut mencapai 11,1 miliar dolar AS.
Namun, China menilai langkah tersebut melanggar prinsip “Satu China” dan tiga komunike bersama China-AS. Guo Jiakun menegaskan bahwa penjualan senjata itu mengancam kedaulatan dan keamanan China. Selanjutnya, tindakan tersebut mengirim sinyal salah kepada kelompok separatis “kemerdekaan Taiwan”.
“Upaya memajukan agenda kemerdekaan melalui pembangunan militer hanya akan mengubah Taiwan menjadi ‘kotak mesiu’ dan mendorong Selat Taiwan ke dalam bahaya konflik militer,” ujar Guo Jiakun.
Ia juga menegaskan bahwa upaya membendung China melalui isu Taiwan tidak akan pernah berhasil.
Guo Jiakun menekankan bahwa isu Taiwan merupakan kepentingan inti China. Isu ini menjadi garis merah yang tidak boleh Washington langgar dalam hubungan bilateral. Maka, ia mendesak Amerika Serikat agar menghentikan pasokan senjata ke Taiwan. Ia meminta AS mematuhi komitmen internasional yang telah disepakati.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat atas keputusan tersebut. Penjualan ini menjadi yang terbesar sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat pada Januari lalu.
Publik berharap dialog dan diplomasi konstruktif dapat meredam ketegangan di Selat Taiwan. Dengan demikian, semua pihak dapat menahan diri untuk menghindari eskalasi militer. Upaya ini penting guna menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan demi kepentingan bersama. [Red]









