InfoMatoa, (Jayawijaya) | Sebuah inisiatif lokal muncul sebagai lentera harapan di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan Papua Pegunungan. Neas Wanimbo mendedikasikan dirinya untuk memberantas buta aksara. Ia mendirikan gerakan literasi komunitas bernama Yayasan Hano Wene Indonesia. Pemuda asal Kampung Huewi, Distrik Tangma ini bergerak secara mandiri.
Nama “Hano Wene” berasal dari bahasa Hubla yang bermakna “Kabar Baik”. Melalui yayasan tersebut, Neas berupaya mengubah masa depan anak-anak di pedalaman Papua. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki kesempatan yang sama dengan anak perkotaan.
Neas merupakan lulusan Universitas Tanri Abeng Jakarta yang memilih pulang untuk membawa perubahan. Selanjutnya, ia menggalang donasi berupa buku dan alat tulis dari rekan kampusnya. Langkah tersebut ia lakukan untuk membangun kelas literasi sederhana di kampung halaman.
Belajar dengan Hati dan Tradisi
Neas melaksanakan kelas literasi Hano Wene setiap sore dengan metode yang unik. Ia tidak menggunakan kurikulum kaku dalam mengajar. Sebaliknya, Neas menyesuaikan materi dengan kearifan lokal masyarakat Papua:
- Pendekatan Budaya: Menggunakan cerita rakyat dan lagu daerah sebagai sarana belajar membaca.
- Aktivitas Alam: Mengajak anak-anak belajar di luar ruangan melalui permainan dan interaksi lingkungan.
- Kemandirian Pemuda: Menggerakkan pemuda lokal sebagai relawan pengajar di yayasan.
“Kami tidak menggantikan guru. Kami berjalan bersama mereka, membantu anak-anak belajar dengan cara mereka sendiri,” tegas Neas.
Hasilnya, perubahan mulai terlihat pada kemampuan membaca serta pertumbuhan karakter anak. Neas mengenang momen haru saat seorang anak bernama Yongki berani tampil. Anak pemalu tersebut akhirnya lantang membaca di hadapan teman-temannya. Oleh karena itu, momen ini menjadi simbol kebangkitan generasi muda Huewi.
Dukungan Komunitas adalah Kunci
Namun, perjalanan Neas dalam menjalankan yayasan ini tidaklah mudah. Medan geografis yang berat serta dana terbatas seringkali menjadi penghalang utama. Meskipun demikian, keterlibatan aktif warga kampung menjadi bahan bakar semangatnya. Warga secara sukarela menyiapkan tempat belajar bagi anak-anak. Selain itu, mereka menjaga keberlanjutan kegiatan saat relawan menempuh perjalanan jauh.
Pendekatan berbasis komunitas ini mendapat apresiasi dari Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim. Menurutnya, inisiatif mandiri Hano Wene sangat krusial bagi wilayah terpencil. Hal ini karena gerakan tersebut mengisi celah layanan formal pemerintah.
Bagi Neas Wanimbo, pengalaman mengikuti program kepemudaan ke Australia mempertebal keyakinannya. Ia percaya bahwa perubahan berarti harus dimulai dari rumah sendiri. Kini, Kampung Huewi menjadi pusat pembibitan “kabar baik” bagi masa depan Papua Pegunungan. [Red]









