InfoMatoa, (Teluk Wondama) | Sebanyak 40 peserta pelatihan pemandu ekowisata di Kabupaten Teluk Wondama mengikuti sesi praktik lapangan intensif di kawasan situs bersejarah Bukit Aitumieri. Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian pelatihan Pemandu Ekowisata. Melalui kegiatan ini, Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Teluk Wondama berupaya meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata di daerah.
Para peserta berasal dari empat distrik berbeda. Selanjutnya, instruktur berpengalaman dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua Barat membimbing mereka secara langsung. Instruktur tersebut yakni Ketua HPI Papua Barat Matias Rumbruren serta Yansen Saragih dari Bidang Pelatihan dan Pengembangan HPI Papua Barat.
Berbeda dengan sesi teori di dalam ruangan, praktik lapangan di Bukit Aitumieri menuntut peserta menerapkan keterampilan kepemanduan secara langsung. Para instruktur tidak hanya memberi arahan. Namun demikian, mereka juga memperagakan role-play profesional. Peragaan itu mencakup cara menyapa wisatawan, menyampaikan informasi, hingga mengakhiri perjalanan secara aman dan berkesan.
Dalam simulasi tersebut, peserta mempelajari sejumlah teknik penting, antara lain:
- Teknik Interpretasi: Cara mengemas sejarah Aitumieri dan kekayaan alamnya menjadi cerita menarik bagi wisatawan.
- Manajemen Perjalanan: Mengatur ritme pendakian, menjaga kenyamanan dan keamanan, serta mengoordinasikan kelompok selama perjalanan.
Yansen Saragih menjelaskan bahwa praktik lapangan menjadi inti kemampuan seorang pemandu.
“Peserta kami ajak melihat dan mempraktikkan langsung bagaimana memandu wisatawan dengan benar, agar mereka siap dan percaya diri di lapangan,” ujarnya.
Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya, mencoba memandu kelompok secara mandiri, serta menerima evaluasi langsung dari instruktur. Salah satu peserta, Syane Suabey dari Distrik Wasior, mengungkapkan pengalamannya.
“Awalnya saya hanya tahu tempatnya saja, tetapi bingung bagaimana membuatnya menarik bagi wisatawan. Setelah dicontohkan langsung, saya sadar pemandu bukan hanya penunjuk jalan, melainkan juga pencerita dan penjaga keselamatan,” katanya.
Sementara itu, Matias Rumbruren menilai Bukit Aitumieri sebagai lokasi yang ideal untuk praktik. Menurutnya, kawasan ini memiliki medan menantang dan kaya nilai sejarah.
“Ekowisata menuntut kemampuan storytelling yang kuat, terutama di situs-situs seperti Aitumieri,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, 40 peserta diharapkan mampu menjadi pemandu ekowisata profesional. Selain itu, mereka diharapkan dapat meningkatkan standar pelayanan pariwisata sekaligus berkontribusi pada ekonomi lokal Teluk Wondama. [Red]









