InfoMatoa, (Nabire) | Di tengah perayaan Hari Otonomi Khusus ke-24, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menunjukkan komitmen kuat dalam merawat budaya dan identitas masyarakat. Melalui Lomba Sayembara Noken Papua Tengah, pemerintah menyediakan ruang apresiasi sekaligus panggung kreatif bagi perajin noken dari berbagai wilayah. Kegiatan ini dibuka oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum, Dr. Zakharias F. Marey, S.Sos., MT, di Guest House Nabire, Senin (17/11).
Perayaan Budaya dan Identitas Papua
Acara ini bukan sekadar perlombaan seni. Ia menjadi perayaan jati diri, ruang refleksi atas akar budaya, serta ajakan untuk memastikan tradisi leluhur tetap hidup di tengah modernisasi. Dr. Zakharias Marey menegaskan bahwa noken bukan hanya karya tangan, tetapi simbol yang menyiratkan sejarah dan nilai kehidupan masyarakat Papua.
“Noken adalah simbol kearifan lokal, simbol kasih seorang mama kepada anaknya, simbol kerja keras, serta simbol persatuan masyarakat Papua,” ujarnya.
Sejak UNESCO menetapkan noken sebagai Warisan Budaya Takbenda, noken menjadi kebanggaan lokal sekaligus identitas Papua yang mendunia. Pengakuan internasional itu menjadi dorongan dan tanggung jawab bersama untuk menjaga, mengajarkan, serta mewariskan tradisi noken kepada generasi berikutnya.
Sayembara Noken Papua Tengah
Sayembara tahun ini menampilkan kategori yang menonjolkan kreativitas, inovasi, dan cerita budaya dalam setiap karya. Tidak hanya mama-mama pengrajin senior yang ikut, tetapi juga banyak anak muda berpartisipasi. Mereka menunjukkan kemampuan merancang noken dengan sentuhan baru tanpa menghilangkan akar tradisi.
Dr. Zakharias Marey menyampaikan apresiasi kepada panitia, komunitas budaya, peserta, dan mama-mama perajin yang menjadi tulang punggung ekonomi kreatif di kampung dan kota-kota Papua Tengah. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menggerakkan ekonomi keluarga melalui karya budaya bernilai tinggi.
“Sayembara ini adalah ruang belajar, ruang berkembang, dan ruang berbagi. Kita ingin budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, perajin muda mendapat kesempatan unjuk kreativitas sekaligus belajar dari pengrajin berpengalaman. Pemerintah Papua Tengah menegaskan komitmennya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya melalui pelatihan, pendampingan, dan dukungan pemasaran. Semua ini bertujuan meningkatkan daya saing produk lokal.
Acara ini menegaskan kembali bahwa noken merupakan identitas budaya yang hidup. Kekuatan noken terletak bukan hanya pada fungsinya sebagai tas tradisional, tetapi juga pada filosofi di dalamnya—keuletan, kesabaran, kerja keras, dan cinta kasih seorang mama Papua kepada generasinya.
Pemerintah berharap tradisi noken terus berkembang sebagai warisan budaya yang dinamis. Inisiatif ini diharapkan memperkuat kebanggaan masyarakat Papua terhadap identitas budayanya, mendorong lahirnya perajin muda kreatif, serta menjadikan noken sebagai penopang ekonomi kreatif sekaligus simbol budaya yang tetap hidup dari generasi ke generasi. [Red]









