InfoMatoa, (Sarmi) | Seorang warga Pulau Liki, Distrik Sarmi, Kabupaten Sarmi, menyampaikan kekecewaannya terkait pengadaan kapal cepat “Samat Dari” oleh pemerintah kampung dengan menggunakan Dana Desa (DD) Tahun 2023. Menurutnya, kapal tersebut tidak menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.
Dikutip dari Papua.tribunnews.com, salah satu warga yang enggan disebutkan namanya menuturkan, kapal cepat sulit digunakan secara efektif karena boros bahan bakar dan tarif angkutan yang mahal.
“Harga tiket pergi-pulang Rp260 ribu per orang. Itu memberatkan, apalagi kapal ini juga tidak bisa memuat banyak barang bawaan,” ujarnya, Minggu (14/9).
Ia menambahkan, pada momen genting seperti membantu warga berduka atau keadaan darurat, kapal tersebut justru tidak bisa dimanfaatkan. Kondisi ini membuat kebutuhan transportasi yang mudah dan terjangkau masih menjadi persoalan utama bagi warga Pulau Liki.
Lebih disayangkan lagi, kapal cepat itu disebut lebih sering “parkir manis” di dermaga kampung, dan hanya dipakai saat ada kunjungan pejabat dari luar maupun Kabupaten Sarmi. Hal tersebut memicu kekecewaan karena aset desa yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat justru terbatas penggunaannya.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kampung Liki, Apolos Kiman, mengakui persoalan tersebut. Ia yang baru sebulan menjabat menggantikan kepala kampung sebelumnya, menegaskan komitmennya untuk memperbaiki arah pembangunan ke depan.
“Ini pelajaran penting. Ke depan kami ingin semua program kampung betul-betul menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar formalitas pengadaan,” ucapnya saat ditemui ketika mengantar jenazah ke Pulau Liki.
Apolos berharap dukungan warga dan instansi terkait agar pembangunan kampung berjalan transparan, partisipatif, dan benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Mari kita sama-sama belajar dari masa lalu dan bangun Pulau Liki dengan lebih baik,” pungkasnya.
[Red]









