Ancaman Deepfake: AI Dinilai Berpotensi Guncang Keamanan Nuklir Global

- Jurnalis

Kamis, 1 Januari 2026 - 07:11 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

InfoMatoa, (AS) | Majalah Foreign Affairs menilai pengembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi mengancam keamanan nuklir global. Media tersebut melaporkan hal ini pada Senin (29/12). Selanjutnya, laporan itu menyoroti risiko teknologi deepfake dalam pengambilan keputusan strategis militer.

Ekonom UNDP Philip Schellekens memperingatkan bahaya penerapan AI di sektor militer awal bulan ini. Beliau menyatakan bahwa teknologi tersebut dapat mengancam eksistensi manusia secara serius. Selain itu, AI berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam skala besar. Beliau menekankan perlunya pengawasan ketat agar manusia menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Deepfake menciptakan manipulasi audio dan visual palsu yang tampak sangat nyata. Menurut laporan, teknologi ini dapat memicu kesalahan penilaian fatal para pemimpin negara nuklir. Selain itu, pakar menilai teknologi tersebut mampu menciptakan ilusi serangan meyakinkan. Hal ini berisiko mendorong keputusan peluncuran senjata nuklir secara prematur.

Baca Juga :  Malaysia Dukung Implementasi Gencatan Senjata Kamboja–Thailand

Laporan tersebut juga menyoroti kemungkinan pelimpahan kewenangan keputusan strategis kepada sistem AI. Hal ini mencakup keputusan penggunaan senjata nuklir oleh mesin. Selanjutnya, ketergantungan semacam itu berpotensi memperbesar peluang kesalahan fatal. Kondisi ini tentu sangat berbahaya terutama dalam situasi krisis global.

Kemajuan AI telah menurunkan hambatan pembuatan video dan gambar palsu secara signifikan. Akibatnya, penyebaran informasi bohong menjadi semakin mudah bagi siapa saja. Selain itu, masyarakat sulit membedakan fakta dari kebohongan tersebut saat ini. Hal ini akhirnya meningkatkan risiko disinformasi di tingkat internasional.

Baca Juga :  Wagub Aryoko Rumaropen Ajak Kepala Daerah Papua Terapkan Pembayaran Non-Tunai Digital

Deepfake mampu meyakinkan suatu negara bahwa mereka tengah menghadapi serangan nuklir. Kondisi ini dapat memicu serangan pendahuluan atau merekayasa alasan perang. Selain itu, pihak tertentu berpotensi memanfaatkan teknologi ini untuk menggalang dukungan konflik. Bahkan, deepfake bisa memperuncing perpecahan di dalam masyarakat.

Komunitas internasional mengharapkan situasi ini menjadi peringatan bagi seluruh dunia. Negara-negara harus memperkuat kerja sama global dalam mengatur penggunaan AI militer. Langkah ini bertujuan mencegah eskalasi konflik di masa depan. Akhirnya, teknologi harus berkembang demi perdamaian dan keamanan umat manusia. [Red]

BERITA LAINNYA

China Perkuat Ambisi Internet Satelit di Orbit Rendah Bumi
Inggris Bahas Opsi Penempatan Pasukan NATO di Greenland Bersama Sekutu Eropa
KBRI Ottawa Tegaskan Asia Tenggara Mitra Strategis Kanada
Delapan Negara Eropa Tolak Ambisi Trump Caplok Greenland
Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Tegaskan Stabilitas Hubungan Bilateral
Setelah Maduro, Trump Isyaratkan Tumbangkan Presiden Kolombia dan Pemimpin Iran
AS Klaim Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam Operasi Militer Rahasia
Penjualan Tesla Anjlok pada 2025, BYD Resmi Salip Pasar EV Global
Berita ini 3 kali dibaca

BERITA LAINNYA

Senin, 12 Januari 2026 - 17:25 WIT

Inggris Bahas Opsi Penempatan Pasukan NATO di Greenland Bersama Sekutu Eropa

Jumat, 9 Januari 2026 - 07:05 WIT

KBRI Ottawa Tegaskan Asia Tenggara Mitra Strategis Kanada

Kamis, 8 Januari 2026 - 07:07 WIT

Delapan Negara Eropa Tolak Ambisi Trump Caplok Greenland

Rabu, 7 Januari 2026 - 09:42 WIT

Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Tegaskan Stabilitas Hubungan Bilateral

Selasa, 6 Januari 2026 - 07:46 WIT

Setelah Maduro, Trump Isyaratkan Tumbangkan Presiden Kolombia dan Pemimpin Iran

Berita Terbaru

error: Content is protected !!