InfoMatoa, (Kuala Lumpur) | Negara-negara ASEAN terus memperkuat komitmen terhadap transisi energi berkelanjutan menjelang Pertemuan Menteri Energi ASEAN (AMEM) ke-43 di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia. Kementerian Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA) secara resmi membuka kegiatan tersebut pada Selasa (14/10).
ASEAN Perkuat Kolaborasi Energi
Pertemuan pejabat senior bidang energi ASEAN (SOME) menjadi pembuka rangkaian AMEM ke-43. Para delegasi dari seluruh negara anggota ASEAN dan Timor-Leste hadir untuk menyelaraskan arah kebijakan energi kawasan. Mereka menegaskan tekad bersama untuk mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan.
Dalam diskusi itu, peserta menyoroti tiga isu penting, yakni ketahanan energi, keberlanjutan, dan integrasi energi regional. Mereka juga menyepakati target baru untuk menurunkan intensitas energi hingga 40 persen. Selain itu, porsi energi terbarukan akan ditingkatkan menjadi 30 persen dari total pasokan energi primer. Pada tahun 2030, kapasitas pembangkitan energi baru terbarukan diharapkan mencapai 45 persen.
Langkah Strategis dan Dukungan Global
Kemudian, ASEAN meluncurkan beberapa inisiatif baru guna memperkuat kerja sama energi lintas negara. Di antaranya MoU ASEAN Power Grid, Peta Jalan Energi Terbarukan ASEAN, dan Inisiatif Pembiayaan Jaringan Listrik ASEAN (APGF). Program ini melibatkan dukungan dari Bank Dunia serta Bank Pembangunan Asia (ADB). Melalui langkah ini, ASEAN ingin mempercepat integrasi energi yang inklusif dan berkeadilan di seluruh kawasan.
Sementara itu, Malaysia selaku Ketua Jaringan Sub-Sektor Energi Terbarukan ASEAN (RE-SSN) melaporkan peningkatan signifikan kapasitas energi terbarukan di Asia Tenggara. Hingga 2023, kapasitas tersebut telah mencapai 34,4 persen, mendekati target regional 35 persen pada 2025. Capaian ini menunjukkan kemajuan nyata yang patut diapresiasi.
Penguatan SDM dan Regulasi Regional
Selain fokus pada pembangunan energi, Malaysia juga memperkenalkan ASEAN School of Regulation. Lembaga ini berfungsi sebagai pusat pelatihan dan riset kebijakan energi. Dengan kehadiran sekolah ini, negara-negara anggota dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sekaligus menyusun regulasi yang responsif terhadap perubahan global.
Selanjutnya, hasil pertemuan SOME menghasilkan rekomendasi penting untuk dibawa ke AMEM ke-43. Rekomendasi tersebut mencakup pengesahan APAEC 2026–2030, prioritas kerja sama energi lintas negara, dan kemitraan dengan lembaga internasional seperti IEA, IRENA, serta ADB. Oleh karena itu, ASEAN optimistis mampu membangun sistem energi yang tangguh, hijau, dan berkelanjutan untuk masa depan kawasan Asia Tenggara.
[Red]









