InfoMatoa, (Jakarta) | Pemerintah resmi menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai awal tahun ini. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kebijakan tersebut secara langsung. Hal ini sejalan dengan beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan milik PT Pertamina.
Kebijakan ini mewajibkan seluruh SPBU swasta membeli solar dari Pertamina. Oleh karena itu, mereka tidak lagi mengandalkan pasokan impor dari luar negeri.
“Begitu (proyek ini) diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Kita sudah mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar,” ujar Bahlil saat peresmian kilang di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).
Bahlil memastikan pengoperasian RDMP Kilang Balikpapan memperkuat produksi Pertamina secara signifikan. Kini, Pertamina mampu memproduksi seluruh jenis solar untuk pasar domestik. Produk tersebut mencakup solar jenis CN48 maupun CN51. Menurutnya, kapasitas tersebut menghilangkan alasan Indonesia untuk mendatangkan solar dari luar negeri.
Kemandirian Energi dan Kebutuhan Nasional
Penegasan tersebut juga berlaku bagi SPBU swasta yang selama ini mengandalkan impor. Bahlil juga menyampaikan ambisi pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM secara bertahap. Pemerintah menilai optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan menjadi kunci utama pencapaian target tersebut.
Ia memaparkan kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai 38,5 juta kiloliter per tahun. Angka itu mencakup bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kiloliter per tahun. Selain itu, terdapat kebutuhan RON 92 sebesar 8,7 juta kiloliter. Sisanya merupakan RON 95 dan RON 98 sebesar 650 ribu kiloliter.
Teknologi Kilang dan Penurunan Impor Bensin
Melalui optimalisasi RDMP, Pertamina mampu meningkatkan produksi bensin di atas RON 90. Peningkatan tersebut mencapai angka 5,5 juta kiloliter per tahun. Tambahan kapasitas ini juga menekan impor bensin RON 92, 95, dan 98. Penurunan impor tersebut mencapai sekitar 3,6 juta kiloliter per tahun.
“Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” pungkas Bahlil.
RDMP Kilang Balikpapan memiliki dua fasilitas utama yaitu CDU dan RFCC. Keberadaan CDU meningkatkan kapasitas pengolahan dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari. Sementara itu, unit RFCC mengolah residu minyak mentah menjadi produk petrokimia bernilai tinggi. Produk tersebut seperti propylene dan ethylene yang memperkuat nilai tambah industri nasional. [Red]









