InfoMatoa, (Pegunungan Arfak) | Dikutip dari Kompas.com, Peneliti Pusat Arkeologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hari Suroto, menjelaskan bahwa kupu-kupu sayap burung yang hidup di Pegunungan Arfak, Papua Barat, termasuk spesies langka yang pemerintah lindungi. Salah satu spesies yang menjadi sorotan adalah Ornithoptera rothschildi, atau kupu-kupu sayap burung Rothschild. Selain itu, spesies ini juga endemik Pegunungan Arfak.
“Kupu-kupu ini terkenal karena ukurannya yang besar dan indah, menjadikannya incaran para kolektor, namun juga rentan terhadap perubahan habitat,” jelas Suroto.
Pegunungan Arfak—puncak tertinggi di Papua Barat dengan ketinggian 2.955 meter di atas permukaan laut—menjadi habitat alami kupu-kupu menakjubkan ini. Empat suku asli, yakni Hatam, Meyah, Sough, dan Moley menghuni wilayah tersebut. Selain itu, mereka telah lama hidup berdampingan dengan keanekaragaman hayati Arfak.
Suroto menjelaskan bahwa kupu-kupu sayap burung memiliki bentang sayap jauh lebih besar daripada kupu-kupu biasa. Pada kupu-kupu jantan, bercirikan corak warna hitam dan hijau. sedangkan betina berwarna hitam dengan corak putih serta sentuhan kuning.
“Wilayah asli kupu-kupu ini adalah Pulau Papua, terutama Cagar Alam Pegunungan Arfak di Papua Barat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah memasukkan seluruh spesies kupu-kupu sayap burung di Indonesia ke dalam kategori satwa yang hukum lindungi.
Tim konservasi terus menjalankan penangkaran semi-alami di beberapa lokasi, seperti Kampung Iray dan Kampung Mboiti di sekitar Danau Anggi. Selain itu, mereka juga mengelola penangkaran di Kampung Dueibey, Distrik Minyambow, Kabupaten Manokwari. Program ini penting untuk melindungi spesies yang sering menjadi target perburuan koleksi.
“Spesies ini sering diburu untuk koleksi, sehingga diperlukan upaya konservasi dan tindakan hukum terhadap para pelanggar,” tegas Suroto.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi ekosistem Pegunungan Arfak sangat menentukan keberadaan kupu-kupu sayap burung karena wilayah tersebut rentan terhadap perubahan iklim.
“Perubahan iklim menyebabkan suhu panas, sehingga bunga tidak mekar dan kupu-kupu tidak muncul,” ujarnya.
Penelitian dan edukasi konservasi terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat. Selain itu, upaya ini membantu menjaga keberlanjutan spesies endemik Arfak agar tetap lestari di habitat aslinya. [Red]









