InfoMatoa, (Kuala Lumpur) | Pertemuan ke-43 Menteri Energi ASEAN (AMEM ke-43) resmi dibuka di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia, Kamis (16/10). Forum ini menjadi momen penting bagi ASEAN untuk menetapkan arah kebijakan energi kawasan selama lima tahun ke depan.
AMEM ke-43 dan Fokus Energi ASEAN
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Peralihan Tenaga dan Transformasi Air Malaysia, Datuk Amar Haji Fadillah Bin Haji Yusof, menegaskan bahwa pertemuan kali ini tidak hanya menutup rencana kerja sebelumnya. Selain itu, AMEM ke-43 membuka proses penyusunan lanskap energi ASEAN 2026–2030.
“AMEM kali ini merupakan momen penting. Kita tidak hanya menutup rencana kerja saat ini, tetapi juga bersama-sama menyusun arah lanskap energi untuk lima tahun ke depan,” ujar Fadillah.
Malaysia mengusung tema kepemimpinan ASEAN tahun ini, yaitu “Inklusivitas dan Keberlanjutan.” Mereka mewujudkan tema untuk sektor energi melalui slogan “Menerangi ASEAN: Menjembatani Batas, Membangun Kemakmuran.” Tema ini menunjukkan komitmen Malaysia memperkuat konektivitas energi regional. Selain itu, mereka memastikan transisi energi berjalan berkeadilan dan menciptakan kesejahteraan bersama di kawasan.
Agenda Utama dan Peta Jalan Energi
AMEM menempatkan peluncuran Rencana Aksi Kerja Sama Energi ASEAN (APAEC) Fase II: 2026–2030 sebagai agenda utama. Dokumen ini menjadi peta jalan bagi negara-negara ASEAN untuk mengembangkan sistem energi yang lebih bersih, tangguh, dan terintegrasi.
Para menteri menandatangani beberapa dokumen penting dan memperkuat Nota Kesepahaman (MoU) jaringan listrik ASEAN untuk mendukung perdagangan listrik lintas batas. Mereka menyepakati Perjanjian Kerangka Kerja ASEAN tentang Keamanan Minyak Bumi (AFAPS) guna memperkokoh ketahanan energi. Selain itu, Inisiatif Pembiayaan Jaringan Listrik ASEAN (APGF) akan menarik investasi infrastruktur lintas negara.
Fadillah menambahkan bahwa pertemuan meninjau peta jalan energi terbarukan, platform investasi efisiensi energi ASEAN, dan kerangka kerja kabel daya bawah laut untuk memperkuat interkoneksi sistem tenaga regional. Para menteri juga menerima laporan kemajuan terkait pembangkit listrik tenaga nuklir (NPP) dan sertifikat energi terbarukan (REC). Langkah ini membantu mendorong dekarbonisasi kawasan.
Dialog dan Partisipasi Delegasi Indonesia
Sesi AMEM hari ini mencakup dialog dengan IEA, IRENA, dan sektor swasta. Para peserta melanjutkan pertemuan dengan KTT Asia Timur (EAS EMM) ke-19 dan Konsultasi AMEM+3 ke-22 pada Jumat (17/10). Delegasi Indonesia dipimpin Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung. Ia hadir bersama pejabat senior bidang energi untuk memastikan aspirasi Indonesia tersampaikan dan kepentingan nasional tercapai. [Red]









