InfoMatoa, (Pegunungan Bintang) | Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, menjadi saksi momen bersejarah bagi Gereja Katolik di Indonesia. Pada Rabu (29/10), umat Katolik merayakan puncak 100 Tahun Karya Kongregasi Susteran Fransiskan Santa Lusia (KSFL) di Indonesia dengan penuh sukacita. Perayaan berlangsung khidmat di Gedung Soskat Paroki Roh Kudus Oksibil, Distrik Oksibil.
Dengan mengusung tema “Bersyukur, Berlayar, dan Berkabar,” acara ini menghadirkan sekitar 200 umat Katolik, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari berbagai wilayah. Selain itu, perayaan menjadi semakin istimewa karena tiga Uskup hadir secara langsung, yakni Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM (Uskup Bogor), Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA (Uskup Timika), dan Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You (Uskup Jayapura). Kehadiran mereka menegaskan perhatian Gereja terhadap umat di wilayah paling timur Indonesia. Selain itu, momentum tersebut memperlihatkan semangat persaudaraan yang kuat di antara umat dan para gembala Gereja.
Apresiasi Pemerintah untuk 100 Tahun Pelayanan
Bupati Pegunungan Bintang, Spey Yan Bidana, S.T., M.Si., menyampaikan rasa bangga serta apresiasi tinggi atas dedikasi KSFL selama satu abad dalam pelayanan umat di Tanah Papua.
“Kehadiran tiga Uskup di Pegunungan Bintang seperti para murid Yesus yang datang membawa pesan damai, kasih, dan pengharapan bagi umat di tanah Injil ini.” ujar Bupati Spey.
Selain itu, ia menegaskan bahwa Pegunungan Bintang adalah tanah yang diberkati. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus berdoa demi kedamaian Tanah Papua. Ia juga berharap kesejahteraan umat di seluruh pelosok daerah dapat semakin meningkat.
Perjalanan Iman dan Komitmen Pelayanan
Misa syukur dimulai pukul 09.30 WIT dan berlangsung penuh khidmat. Dalam pesannya, Mgr. Yanuarius T.M. You menekankan bahwa peringatan 100 tahun KSFL menggambarkan ketekunan dan kesetiaan dalam pelayanan umat.
“Mari jadikan momentum ini untuk memperbarui komitmen pelayanan, memperkuat semangat kasih, persaudaraan, dan kemanusiaan.” ajak Mgr. Yanuarius.
Selain itu, ia berharap generasi muda melanjutkan semangat para suster yang telah berkarya di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Ia menilai dedikasi tersebut perlu diteruskan dengan penuh tanggung jawab dan cinta kasih agar nilai pelayanan tetap hidup di tengah masyarakat.
Secara nasional, KSFL mulai berkarya di Indonesia sejak 3 Oktober 1925 di Sumatera. Setelah itu, mereka memperluas pelayanan hingga ke wilayah Pegunungan Bintang. Mereka tetap berpegang pada spiritualitas Santo Fransiskus Assisi dan Muder Lusia Dierckx. Sebagai penutup, umat menggelar tradisi Bakar Batu dan tarian adat Oksang sebagai simbol rasa syukur. Melalui kegiatan ini, umat menegaskan semangat persaudaraan dan kebersamaan yang terus hidup di tanah pegunungan. [Red]









