InfoMatoa, (AS) | Majalah Foreign Affairs menilai pengembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi mengancam keamanan nuklir global. Media tersebut melaporkan hal ini pada Senin (29/12). Selanjutnya, laporan itu menyoroti risiko teknologi deepfake dalam pengambilan keputusan strategis militer.
Ekonom UNDP Philip Schellekens memperingatkan bahaya penerapan AI di sektor militer awal bulan ini. Beliau menyatakan bahwa teknologi tersebut dapat mengancam eksistensi manusia secara serius. Selain itu, AI berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam skala besar. Beliau menekankan perlunya pengawasan ketat agar manusia menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Deepfake menciptakan manipulasi audio dan visual palsu yang tampak sangat nyata. Menurut laporan, teknologi ini dapat memicu kesalahan penilaian fatal para pemimpin negara nuklir. Selain itu, pakar menilai teknologi tersebut mampu menciptakan ilusi serangan meyakinkan. Hal ini berisiko mendorong keputusan peluncuran senjata nuklir secara prematur.
Laporan tersebut juga menyoroti kemungkinan pelimpahan kewenangan keputusan strategis kepada sistem AI. Hal ini mencakup keputusan penggunaan senjata nuklir oleh mesin. Selanjutnya, ketergantungan semacam itu berpotensi memperbesar peluang kesalahan fatal. Kondisi ini tentu sangat berbahaya terutama dalam situasi krisis global.
Kemajuan AI telah menurunkan hambatan pembuatan video dan gambar palsu secara signifikan. Akibatnya, penyebaran informasi bohong menjadi semakin mudah bagi siapa saja. Selain itu, masyarakat sulit membedakan fakta dari kebohongan tersebut saat ini. Hal ini akhirnya meningkatkan risiko disinformasi di tingkat internasional.
Deepfake mampu meyakinkan suatu negara bahwa mereka tengah menghadapi serangan nuklir. Kondisi ini dapat memicu serangan pendahuluan atau merekayasa alasan perang. Selain itu, pihak tertentu berpotensi memanfaatkan teknologi ini untuk menggalang dukungan konflik. Bahkan, deepfake bisa memperuncing perpecahan di dalam masyarakat.
Komunitas internasional mengharapkan situasi ini menjadi peringatan bagi seluruh dunia. Negara-negara harus memperkuat kerja sama global dalam mengatur penggunaan AI militer. Langkah ini bertujuan mencegah eskalasi konflik di masa depan. Akhirnya, teknologi harus berkembang demi perdamaian dan keamanan umat manusia. [Red]









