InfoMatoa, (Nusa Tenggara Barat) | Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Perdagangan NTB, Jamaludin Malady mengungkapkan adanya dugaan permainan oknum yang menyebabkan harga elpiji bersubsidi di Pulau Sumbawa mahal.
Dia mengatakan, harga gas elpiji 3kg di pulau itu mencapai Rp45 ribu. Padahal, Harga Eceran Tertinggi (HET) di agen hanya Rp18 ribu.
Menurutnya, terdapat oknum yang memindahkan isi gas elpiji 3kg ke gas elpiji non subsidi. Hal ini menyebabkan elpiji bersubsidi langka sehingga harga melambung tinggi.
“Dipindahkan isi Gasnya ke yang tidak subsidi. Dibeli banyak-banyak yang subsidi karena non subsisi dianggap sedikit beredar. Oknum pengusaha mengambil gas subsidi 3kg, akhirnya jatah untuk masyarakat miskin berkurang karena dipindahkan ke LPG tabung besar,” jelas Jamal.
Dinas Perdagangan NTB bersama Branch Manajer Elpiji NTB mendorong Pemerintah Daerah Sumbawa untuk mensubsidi satu kapal khusus untuk membawa Elpiji dari Lombok ke Pulau Sumbawa.
Hal ini karena Sumbawa tidak memiliki pangkalan khusus elpiji mengakibatkan tidak ada lokasi khusus untuk penyimpanan yang menyebabkan elpiji harus dibawa dari Lombok.
“Tentu ke depannya lima kabupaten/kota di Pulau Sumbawa supaya bagaimana ke depan ada pengusaha-pengusaha yang bisa menjadi depo LPG supaya lebih cepat distribusi kepada masyarakat,” kata Jamal.
Selama ini, masalah transportasi menjadi salah satu penyebab tingginya harga elpiji di Pulau Sumbawa. Khususnya elpiji non subsidi.
Disampaikan oleh BM LPG ada subsidi kapal untuk mengangkut tabung LPG yang non subsisi supaya tersedia untuk pengusaha.
“Terkendala di pengiriman karena tidak disubsidi,” pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Pertamina telah menyalurkan sebanyak 84.520 tabung gas elpiji 3kg di bulan Juni lalu.
Plt Kepala Dinas ESDM NTB, Wirawan Ahmad menjelaskan kelangkaan gas elpiji yang sempat terjadi di sejumlah daerah bukan karena kekurangan stok, melainkan karena lonjakan permintaan pasca perayaan Idul Adha dan kegiatan keagamaan lainnya.
Termasuk dengan peningkatan kebutuhan selama periode libur panjang menyebabkan adanya tekanan distribusi di lapangan.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga ini mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying atau pembelian berlebih. Ia menekankan, gas bersubsidi diperuntukan bagi rumah tangga dan pelaku UMKM kecil, bukan untuk kegiatan industri skala besar. [Red]









