InfoMatoa, (Jakarta) | Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya bertumpu pada regulasi dan teknologi modern semata. Menurutnya, kearifan masyarakat adat dan pengetahuan lokal telah terbukti menjadi pilar penting dalam menjaga ekosistem dan memastikan manfaat keanekaragaman hayati dapat diwariskan lintas generasi.
“Keanekaragaman hayati adalah sumber pangan, obat-obatan, hingga energi. Pengelolaannya harus seimbang, menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, bioteknologi, dan kearifan lokal yang sudah lama dipraktikkan masyarakat,” ujar Hanif saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Implementasi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Jakarta, Kamis (18/9).
Hanif memaparkan, Indonesia menyimpan kekayaan flora dan fauna luar biasa: 22 tipe ekosistem alami, 98 tipe vegetasi, 9,7 persen tumbuhan berbunga dunia, 14 persen mamalia, 18,6 persen burung, hingga 38,9 persen mamalia laut. Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga memiliki empat dari 25 hotspot laut dunia, termasuk posisi strategis di segitiga terumbu karang.
“Potensi ini akan bermanfaat luas bila dikelola dengan pendekatan bioindustri yang tetap berpijak pada kearifan masyarakat,” tambahnya.
Rapat Koordinasi Nasional ini juga menekankan pentingnya penetapan Kawasan Bernilai Penting bagi Keanekaragaman Hayati (High Conservation Value Area/HCVA) di setiap daerah. Kawasan tersebut tidak hanya meliputi hutan, tetapi juga gambut, savana, perairan darat, hingga laut.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, menekankan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati harus menyatu dalam tata kelola lingkungan.
“Integrasi kawasan penting ini harus masuk dalam penataan ruang dan perizinan berusaha. Perlindungan tidak boleh berhenti di zona inti, tetapi juga mencakup area penyangga dan ekosistem di luar kawasan konservasi,” ujarnya.
Rasio menambahkan, restorasi dan praktik pemanfaatan ramah lingkungan menjadi kunci keberlanjutan. Untuk itu, pemerintah daerah didorong menyusun Profil Kehati Daerah, Rencana Induk Pengelolaan, serta membangun Taman Kehati sebagai instrumen konservasi yang dekat dengan masyarakat.
Dengan menggabungkan kearifan lokal dan sains modern, Indonesia diharapkan mampu menjaga warisan keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang, sekaligus memperkuat daya saing bioindustri ramah lingkungan. [Red]









