InfoMatoa, (NTT) | Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat menangani dampak bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin (8/9) malam. Bencana yang dipicu curah hujan tinggi sejak Minggu (7/9) itu menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di sejumlah desa.
Sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia, satu orang luka-luka, serta empat orang masih hilang dan dalam pencarian. Banjir juga menyebabkan empat unit rumah hanyut, dua jembatan di Desa Sawu dan satu jembatan di Desa Ua rusak, serta tiga titik longsor yang memutus jalan desa di Kampung Mabha Bhoma, Desa Woewolo. Selain itu, bendung DI Malasawu dan DI Lokalabo mengalami kerusakan serius.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa meski sebagian infrastruktur yang terdampak merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi, Kementerian PU tetap mengambil langkah cepat agar masa tanggap darurat dapat segera teratasi.
“Semua alat berat dan tim sudah kita kerahkan di NTT. Bahkan kepala balai yang seharusnya hari ini ikut rapat dengan DPR RI, semalam saya minta kembali ke NTT untuk langsung mengawasi timnya agar proses tanggap darurat lebih cepat,” ujar Dody dalam keterangannya, Kamis (11/9).
Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II terus berkoordinasi dengan TNI-Polri, Pemerintah Daerah, serta BPBD Kabupaten Nagekeo. Upaya yang dilakukan meliputi evakuasi korban, pembersihan material banjir untuk membuka akses jalan, serta perencanaan jangka panjang berupa normalisasi sungai dan mitigasi di daerah rawan bencana.
Selain itu, tim reaksi cepat tanggap bencana Kementerian PU disiagakan di lokasi untuk melakukan pemantauan, identifikasi dampak, hingga menyiapkan kebutuhan logistik seperti alat berat dan material banjiran.
Berdasarkan pantauan BBWS Nusa Tenggara II per 10 September 2025, kondisi air banjir di wilayah Nagekeo dilaporkan mulai surut. [Red]









